Djohar Si Bocah Langkat

Fitra Iskandar, Jurnalis
Jum'at 15 Februari 2013 09:56 WIB
Djohar Arifin.(foto:Dede K/okezone)
Share :

“Saya lahir di Kota Kecil Tanjung Pura, pusat kesultanan Langkat pada zaman dulu. Di sana, minyak pertama ditemukan di Indonesia. Bayangkan betapa makmurnya negeri itu. Banyak fasilitas terbangun dari sekolah sampai tanah lapangan. Sejak kecil akhirnya saya senang main bola.”

Djohar Arifin  Husin menerawang mengingat-ingat masa kecilnya dan perkenalannya dengan sepakbola, dunia yang membuat namanya kini dikenal luas publik Indonesia, semenjak terpilih sebagai Ketua Umum PSSI dalam Kongres Luar Biasa di Solo 9 Juli 2011 silam.

Gampang bagi Djohar kecil untuk menyukai sepakbola. Selain banyak tanah lapang, anak ke-9 dari 12 bersaudara, punya keluarga yang menggemari olahraga ini. Belum lagi, sepakbola sangat merakyat di kampungnya. Hampir semua anak laki-laki bermain sepakbola, di luar jam sekolah.

Djohar kecil pun tak pernah melewatkan waktu menendang-nendang si kulit bundar. Setelah sekolah dan mengaji di madrasah, Djohar selalu turun ke lapangan pukul 4 sore. “Orangtua memberi kesempatan, asal jangan bolos sekolah dan ngaji,” cerita Djohar yang lahir 13 September 1950 itu.

Rutinitas itu membuat Djohar piawai mengolah si kulit bundar. Djohar bercerita, di banding teman sebayanya, dirinya cukup menonjol. Sebab itu dia bisa masuk klub sepakbola di kampungnya. Posisinya sejak awal adalah stopper alias bek. Idolanya, pemain Brasil Djalma Santos dan pemain Timnas, Fan Tek Fong.Keduanya adalah bintang di era 70-an.

Masa kecil dan aktivitas sepakbola Djohar terbilang menyenangkan. Djohar remaja tidak merasa terbebani dengan tugas-tugas sekolah. Djohar juga tidak dipusingkan dengan urusan materi untuk membeli peralatan olahraga. Sepatu sepakbola mudah saja didapat dari bekas kakak-kakaknya. Di luar itu, karena termasuk bakat yang diperhatikan, pengurus klub di kampungnya rela menyediakan keperluan Djohar termasuk sepatu bola.

“Yang terkenal dulu sepatu merek Siong Fo. Kalau ke Jakarta pun saya usahakan singgah di Pasar Senen untuk membeli. Dulu sepatu itu hebat sekali. Sepatunya dari kulit, kuat sekali,” ujar Djohar.

Setelah membela PSL Langkat, Djohar meneruskan SMA di Medan, dan di sana Djohar tidak meninggalkan sepakbola dan bergabung dengan Medan Putra, sampai akhirnya tembus ke skuad PSMS Medan.Uniknya, tidak seperti pemain lain di klub Ayam Kinantan itu, Djohar tetap melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di Fakultas Pertanian dan Perkebunan Universitas Sumatera Utara.

Djohar langsung cabut dari sepakbola ketika keperluan studinya membutuhkan perhatian ekstra, dan tidak bisa ditinggal-tinggal. Saat itu, Djohar harus praktik lapangan, turun ke pertanian dan perkebunan, sehingga mustahil tetap berlatih atau bertanding untuk PSMS. Akhirnya Djohar gantung sepatu. Keputusan itu ia umumkan di tengah-tengah tur PSMS ke Bandung saat peresmian Stadion Siliwangi pada 1976.“Waktu itu usia saya 26,” aku Djohar.

Sebenarnya motivasi Djohar untuk segera menjadi sarjana bukan semata-mata faktor akademis, tapi Djohar sudah kepincut dengan seorang gadis cakep. Setelah berkenalan dan merasa Djohar langsung memancang target. Lulus kuliah, kerja dan menikah dengan gadis idamannya itu.”Namanya Marina,” ucap Djohar sambil mengulum senyum.

Soal cinta, Djohar juga punya jalan cerita yang lumayan mulus. Dia berkenalan dengan Marina karena langsung dicomblangi oleh anak-anak didiknya di klub sepakbola, yang kebetulan adik dari wanita idamannya itu. Saat masih menjadi punggawa PSMS, Djohar memang ikut melatih klub yunior di Medan.

Tak seperti KPSI yang alot saat didekati, gadis incaran Djohar langsung luluh tanpa melalui lobi panjang. Djohar tidak harus susah payah melancarkan rayuan maut, karena tiga anak didiknya sudah lebih dulu mempromosikan sosoknya kepada kakaknya.

“Ada cewek, asyik nih harus dikejar. Di klub, saya melatih di kelompok remajanya. Mereka senang dilatih pemain PSMS. Kemudian saya dibisiki teman, ‘kakaknya cakep-cakep tuh’. Ternyata memang betul. Kemudian saya dikenalkan, oleh anak didik saya ke kakaknya. Di rumah mereka sudah cerita bagaimana saya, jadi pendekatannya lancar. Ya, sekarang jadi istri saya,” kisah Djohar.

(Fitra Iskandar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya