MILAN – Tak ada laga paling menyakitkan bagi Paolo Maldini sepanjang 14 tahun karier internasionalnya (1988-2002) selain kekalahan 1-2 Italia dari Prancis di final Euro 2000. Kekalahan Gli Azzurri sungguh menyesakkan hati bek kiri legendaris AC Milan dan Italia ini.
Unggul 1-0 terlebih dulu melalui gol yang dicetak Marco Delvecchio pada menit ke-55, Italia di ambang juara saat wasit Andreas Frisk asal Swedia sudah bersiap meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Waktu tambahan selama empat menit sudah hampir habis
Namun, hanya 30 detik jelang laga berakhir Sylvain Wiltord berhasil menyamakan kedudukan untuk memaksakan perpanjangan waktu. David Trezeguet lantas mencetak golden goal pada menit ke-103 dan membawa Prancis menjuarai Euro 2000.
Pelatih Italia kala itu Dino Zoff menyebutnya takdir. Negeri Pizza ini seolah memang ditakdirkan untuk kalah.
“Kami memiliki waktu yang hebat di final tersebut. Grup pemain kami sangat kompak dan segalanya berjalan baik hingga saat-saat terakhir,” kata Maldini seperti dikutip dari uefa.com, Sabtu (30/6/2012).
“Hingga 30 detik sebelum berakhirnya final, kami merupakan juara Eropa. Namun, kami memang melawan tim yang tidak pernah menyerah dan mereka berhasil menyamakan kedudukan di 30 detik pertandingan,” sesal Maldini yang kini berusia 44 tahun.
“Kami tiba-tiba langsung menyadari kami akan kalah. Itu merupakan gol penyama kedudukan, tapi di waktu bersamaan itu juga merupakan gol kemenangan,” ungkap Maldini.
“Periode di antara waktu normal dan dan dimulainya perpanjangan waktu, kami saling mengingatkan satu sama lain agar bangkit dan memenangi final. Tapi itu hanya kata-kata, karena di hati kami paling dalam, kami sadar gol penyama kedudukan merupakan pukulan psikologis yang amat besar,” urai pemilik 126 caps tersebut.
(Auzan Julikar Sutedjo)