KUALA LUMPUR – Pasca dijatuhi sanksi seumur hidup oleh FIFA. Mantan bakal calon presiden FIFA, Mohamed Bin Hammam menyatakan ‘perang’ terhadap Sepp Blatter, presiden incumbent FIFA, dan bertekad akan bersihkan namanya dari segala tuduhan.
Mantan presiden AFC tersebut dituduh melakukan percobaan penyuapan kepada delegasi sepakbola Karibia selama masa kampanye pemilihan presiden FIFA pada Mei lalu. Terkait dengan hal itu, Bin Hammam mengundurkan diri dari pemilihan di akhir-akhir masa kampanye. Alhasil, Sepp Blatter sebagai calon tunggal menasbihkan dirinya lagi sebagai supremo FIFA.
Terkait dengan sanksi yang diterima, Bin Hammam akan melaporkan dan mengadukan hal ini ke Court of Arbitration for Sport (CAS) dan pengadilan sipil. Terlebih dia merasa penghentian status bakal calon pada pemilihan lalu dan jatuhnya sanksi tersebut, membuat Bin Hammam merasa ada muatan politik di dalamnya.
Sementara, presiden AFC, Zhang Jilong menyesalkan jatuhnya sanksi seumur hidup yang dikenakan FIFA terhadap Bin Hammam. Untuk itu, Zhang mendukung Bin Hammam yang akan mengajukan banding ke CAS dan pengadilan sipil.
“Ini merupakan hari yang menyedihkan bagi AFC dan sepak bola Asia. AFC menghormati keputusan FIFA sebagai badan tertinggi sepakbola dunia dan kami juga mengakui hak mantan presiden kami untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut,” ungkap Zhang, sebagaimana dilansir Vancouversun, Minggu (14/7/2011).
Namun, dukungan AFC hanya sebatas dukungan moril. Karena AFC juga sedang menghadapi sejumlah tantangan di depannya dan tak ingin ada gesekan dengan FIFA di masa mendatang.
“Tak ada lagi yang dapat AFC katakana mengenai masalah ini. Hari-hari belakangan ini merupakan periode yang sulit untuk kami karena sepakbola Asia sedang menghadapi berbagai tantangan, yang terbesar adalah masalah pengaturan pertandingan,” tambah Zhang.
“Saya, dalam kapasitas saya sebagai presiden AFC, menyadari pentingnya memelihara kepemimpinan yang kuat yang juga dekat dengan asosiasi-asosiasi anggota guna menciptakan iklim kepercayaan dan keyakinan,” tutup pria asal Republik Rakyat Cina tersebut.
(Hendra Mujiraharja)