Prandelli & Collina Soroti "Penyakit" Rasisme di Italia

|

Randy Wirayudha - Okezone

Pierluigi Collina (Foto: Reuters)

Prandelli & Collina Soroti
ROMA – Segenap kompetisi level klub di Italia rampung digelar. Tapi sayangnya, racun bernama rasisme masih saja bercokol dalam momen-momen tertentu. Padahal penyakit laten itu sudah semestinya lenyap dari negeri pizza tersebut.
 
Il Tecnico Nazionale Cesare Prandelli mengakui, problema rasisme memang sudah terbilang “menahun” dan sulit diberantas. Tapi bukan berarti mustahil. Rasisme sudah menjadi sebuah kebiasaan yang sudah seharusnya bisa diatasi pihak-pihak yang berwenang dalam sepakbola Italia.
 
“Rasisme menjadi masalah umum dalam sepakbola Italia. Untuk menjadi negara sepakbola yang dihormati, kami tak boleh memberi toleransi pada masalah itu lagi,” seru Prandelli, sebagaimana dinukil Football-Italia, Selasa (21/5/2013).
 
“Biasanya rasisme dimulai dari sorakan dan olok-olok biasa, tapi setelah itu Anda pasti tahu arahnya akan ke mana lagi. memang kompleks untuk memberantasnya, tapi Anda harus terus menjelaskan pada para suporter untuk menjaga perilakunya,” lanjutnya.
 
Soal rasisme yang sudah harus dijinakkan, Pierluigi Collina mengaku sepakat. Mantan wasit ternama Italia itu ingin sudah ada temuan baru untuk memecahkan masalah rasisme dengan lebih efektif.
 
“Rasisme adalah masalah yang wajib untuk segera ditemukan solusinya,” ungkap mantan wasit yang kini memimpin Komisi Wasit UEFA tersebut.
 
Lebih jauh, pria paruh baya dengan kepala plontos nan khas itu juga ingin merevisi regulasi perihal korban – dalam hal ini pemain, yang sebelumnya tak diperbolehkan bermain lagi jika meninggalkan lapangan secara sepihak ketika terjadi serangan rasis.
 
“Tidaklah tepat jika seorang pemain, dalam kasus mempertahankan harga diri, harus diusir keluar lapangan selamanya. Jika dia merasa terpaksa keluar lapangan karena serangan rasis, tak semestinya dia benar-benar dikeluarkan dari lapangan jika pertandingan dilanjutkan kembali,” pungkas Collina.
(raw)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    "Jika Ubah Posisi, Harus Sering Komunikasi"