TROFI Ballon dOr merupakan penghargaan individu paling bergengsi dalam dunia sepak bola. Meski berawal dari Eropa, ajang ini telah diakui secara global sebagai panggung penentuan pemain terbaik di dunia.
Namun, akibat dominasi era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo serta beberapa hasil pemungutan suara yang kontroversial, banyak talenta luar biasa yang gagal membawa pulang bola emas tersebut.
Dalam penilaian yang memperhitungkan kemampuan keseluruhan, ketatnya persaingan pada masanya, serta posisi finis tertinggi dalam pemungutan suara, terdapat sederet bintang besar yang hanya bisa menjadi saksi keberhasilan pemain lain. Lantas siapa saja mereka?
Legenda Barcelona, Iniesta memiliki momen puncaknya sendiri saat mencetak gol tunggal penentu kemenangan Timnas Spanyol di partai final Piala Dunia 2010. Banyak pengamat menilai Iniesta sangat layak memenangkan Ballon d'Or pada tahun tersebut.
Namun, saat seluruh suara selesai dihitung, maestro lini tengah ini harus puas berada di peringkat kedua, kalah dari rekan setimnya di Barcelona, Lionel Messi.
Hasil Ballon d'Or 2003 menjadi salah satu keputusan paling kontroversial dalam sejarah. Meskipun Thierry Henry menjadi pemain paling produktif di lima liga top Eropa kala itu, ia secara mengejutkan kalah dari Pavel Nedved.
Kendati telah mengoleksi trofi Piala Dunia, Piala Eropa, serta menjadi ikon terbesar di Liga Inggris bersama Arsenal, Henry harus puas finis di posisi kedua, sebuah fakta yang masih sering dipertanyakan banyak pihak hingga saat ini.
Paolo Maldini dianggap sebagai salah satu bek terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Menghabiskan 25 tahun karier profesionalnya hanya untuk AC Milan, sang kapten legendaris berhasil menyabet lima trofi Liga Champions dan tujuh gelar Serie A.
Konsistensi luar biasa yang bertahan melintasi beberapa generasi ini tetap tidak cukup untuk memberikannya trofi Ballon d'Or, dengan posisi terbaiknya hanya meraih peringkat ketiga pada edisi 1994 dan 2003.
Sebagai pengatur tempo dan otak permainan Barcelona serta Timnas Spanyol di era keemasannya, Xavi Hernandez diakui sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang masa. Visi bermain, kreativitas, dan akurasi umpannya tak tertandingi.
Kendati menjadi motor utama permainan tim yang memenangkan banyak gelar bergengsi, pencapaian individu tertinggi Xavi di panggung Ballon d'Or hanya berada di posisi ketiga.
Penampilan luar biasa Luis Suarez pada musim 2013-2014 di Liga Inggris bersama Liverpool sejatinya sudah sangat layak membawanya meraih Ballon d'Or. Bahkan setelah pindah ke Barcelona dan memenangkan Sepatu Emas Eropa, penyerang asal Uruguay ini tetap membuktikan diri sebagai salah satu pencetak gol terbaik dalam sejarah.
Namun, seperti halnya Neymar, Suarez harus berada di bawah bayang-bayang rekan satu timnya sendiri, Lionel Messi.
(Rivan Nasri Rachman)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.