KISAH mantan striker Timnas Indonesia yang mendadakan jadi kiper di Timor Leste menarik untuk dibahas. Pemain yang dimaksud adalah, Miro Baldo Bento, legenda skuad Garuda era 2000-an yang haus gol yang dulu disegani lawan ini, ternyata pernah mengalami momen unik di ujung kariernya ketika ia terpaksa berdiri di bawah mistar gawang.
Miro Baldo Bento lahir di Dili, Timor Timur (kini Timor Leste) pada 4 Juni 1975, dan sempat menghadapi jalan berliku sebelum menjadi pesepak bola profesional. Pada masa mudanya, orangtua Miro lebih mengutamakan pendidikan formal ketimbang mengizinkannya berlatih sepak bola secara serius.
Namun, tekad kuat membawanya menembus jajaran klub papan atas Tanah Air seperti Persija Jakarta, PSIS Semarang, Persijap Jepara, serta PSM Makassar. Puncaknya, ia sukses membawa skuad Juku Eja menjuarai Liga Indonesia musim 1999-2000 berkat insting mencetak golnya yang tajam.
Sebagai penyerang sayap maupun tukang gedor utama, gaya permainan Miro banyak terinspirasi dari dua legenda hidup Brasil, Bebeto dan Romario. Ketajaman tersebut pula yang membawanya memperkuat Timnas Indonesia dan mempersembahkan posisi runner-up di ajang Piala AFF 2000.
Setelah memutuskan melepas status Warga Negara Indonesia dan pulang ke tanah kelahirannya di Timor Leste, babak baru perjalanan karier Miro dimulai. Di sana, ia tidak hanya aktif sebagai pemain, melainkan juga merangkap sebagai pelatih bagi klub lokal yang dibelanya.
Momen paling mengejutkan terjadi ketika timnya mengalami krisis pemain akibat cedera dan akumulasi kartu yang melanda para penjaga gawang utama. Dalam situasi darurat yang mendesak tersebut, tidak ada kiper lain yang bisa diturunkan oleh timnya ke lapangan hijau.