SITTARD – Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, membagikan pengalamannya mengenai perbedaan mencolok atmosfer sepak bola di Eropa dan Tanah Air. Pemain yang kini merumput bersama Fortuna Sittard tersebut mengakui ekspektasi serta kritik dari suporter Timnas Indonesia memiliki skala yang jauh lebih masif dan menuntut ketahanan mental yang lebih kuat.
Meski merasa tekanan tersebut sangat besar, pemain berusia 22 tahun ini mengaku mulai terbiasa berkat dukungan dari tunangan, agen, serta manajernya.
“Di Belanda, kritik mungkin datang dari beberapa ratus orang. Namun di Indonesia, jumlahnya bisa mencapai seratus ribu orang,” ungkap Hubner dalam wawancaranya bersama media Belanda, De Limburger, dikutip Kamis (15/1/2026).
“Saya harus menghadapi tekanan itu, suka atau tidak. Saya pikir saya semakin baik dalam menghadapinya. Tunangan saya membantu saya, begitu juga agen dan manajer saya,” tambahnya.
Selain soal tekanan suporter, Hubner juga tengah menjadi sorotan di Liga Belanda akibat gaya bermainnya yang dinilai terlalu agresif. Sejak bergabung dengan Fortuna Sittard dari Wolverhampton Wanderers U-21, ia telah mengoleksi lima kartu kuning dan satu kartu merah dari 12 penampilan.
Kartu merah yang Hubner terima saat menekel pemain Ajax Amsterdam, Rayane Bounida, pada Desember 2025 lalu memicu gelombang kritik pedas. Menanggapi hal tersebut, Hubner membela diri dengan membandingkan kultur sepak bola Belanda dan Inggris.
Menurut Hubner, publik Eredivisie hanya belum terbiasa dengan tekel keras khas gaya bermain Inggris. Ia menegaskan bahwa di balik gaya mainnya yang lugas, ia memiliki kualitas bertahan yang mumpuni.