Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

SPECIAL HUT RI: Kisah Soeratin Sosrosoegondo Dirikan PSSI dan Jadikan Sepakbola Alat Perjuangan Bangsa

Wikanto Arungbudoyo , Jurnalis-Sabtu, 17 Agustus 2024 |08:02 WIB
SPECIAL HUT RI: Kisah Soeratin Sosrosoegondo Dirikan PSSI dan Jadikan Sepakbola Alat Perjuangan Bangsa
Kisah Soeratin Sosrosoegondo membentuk PSSI dan menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan menarik untuk diulas (Foto: PSSI)
A
A
A

KISAH Soeratin Sosrosoegondo mendirikan PSSI dan menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan bangsa, menarik untuk diulas. Sebab, jasanya begitu besar terhadap Indonesia.

Soeratin merupakan tokoh penting di dunia sepakbola Indonesia. Ia adalah pendiri sekaligus Ketua Umum PSSI yang pertama. Organisasi itu diketahui berdiri pada 19 April 1930.

Logo PSSI

Berdirinya PSSI tak terlepas dari keinginan mulia Ir. Soeratin. Siapa sangka, latar belakangnya sama sekali tidak berkaitan dengan sepakbola.

Soeratin menempuh pendidikan di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, dan lulus pada 1927. Ia kembali ke Tanah Air pada 1928 dan langsung bekerja di sebuah perusahaan konstruksi milik Belanda di Yogyakarta.

Hebatnya, Soeratin merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk sejajar dengan komisaris di perusahaan tersebut. Namun, semangat nasionalismenya begitu tinggi.

Di sela-sela pekerjaannya, Soeratin aktif di bidang pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia. Kegemarannya bermain sepakbola, membuatnya sadar olahraga itu bisa menjadi alat perjuangan.

Tentu, semangat Soeratin itu tidak terlepas dari Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928. Peristiwa itu menjadi landasan semangatnya untuk membangun pergerakan lewat sepakbola.

Pria kelahiran Yogyakarta tersebut melihat sepakbola bisa menjadi wadah terbaik untuk menyebarkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda. Lewat olahraga ini, ia ingin anak-anak muda menentang Belanda.

Guna mewujudkan cita-citanya, Soeratin rajin mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi secara diam-diam untuk menghindari sergapan Polisi Belanda (PID).

Dalam sebuah pertemuan di Hotel Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, gagasan perlunya pembentukan organisasi sepakbola nasional mulai dimatangkan. Semangat itu tidak berhenti sampai di sana.

Pematangan gagasan kembali dilakukan di sejumlah daerah seperti Bandung, Yogyakarta, dan Solo. Kali ini, beberapa tokoh pergerakan nasional mulai dilibatkan.

Sejarah pun tercipta pada 19 April 1930. Pertemuan dilangsungkan dengan mengundang sejumlah perwakilan sepakbola dari Jakarta (VIJ), Bandung (BIVB), Yogyakarta (PSM), Solo (VVB), Madiun (MVB), Magelang (IVBM), dan Surabaya (SIVB).

Soeratin Sosrosoegondo

Dari pertemuan tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI. Karena merupakan penggagas, Ir. Soeratin ditunjuk sebagai Ketua Umum PSSI yang pertama.

Kesibukan mengurus PSSI membuat Soeratin harus mengambil pilihan sulit. Ia memutuskan mundur dari pekerjaan di perusahaan konstruksi. Tidak main-main, pria kelahiran 17 Desember 1898 itu meninggalkan gaji dengan nominal fantastis dan mempertaruhkan statusnya sebagai golongan priyayi.

Tekad bulat diambil Soeratin. Hanya satu misinya, yakni agar Nusantara tidak menjadi pecundang di belantika dunia lewat sepakbola. Sebagai buktinya, Hindia Belanda (nama Indonesia dahulu) ikut dalam Piala Dunia 1938 di Prancis.

Nusantara menjadi pionir bagi sepakbola Asia karena menjadi wakil Benua Kuning pertama yang tampil di Piala Dunia! Tentu saja hal itu tidak terlepas dari sebuah ide dan gagasan besar Ir. Soeratin.

Jabatan sebagai Ketua Umum PSSI dilepas oleh Soeratin pada 1940 seiring kepulangannya ke kampung halaman di Bandung. Keputusan itu juga bukan tanpa risiko. Hidupnya serba sulit.

Apalagi, Soeratin dituduh oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai pemberontak karena aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dianggap musuh. Gerak-geriknya terbatas sehingga hidup dalam kondisi sulit di masa tua.

Harga mahal harus dibayar Soeratin untuk perjuangannya lewat sepakbola. Ia memang sempat ditunjuk sebagai Pemimpin Djawatan Kereta Api (Direktur Utama KAI di era sekarang) pada 1949, tetapi tidak lama.

Usia yang semakin renta dan kondisi tubuh yang mulai sakit-sakitan, membuat Soeratin tak lama menjadi pemimpin di kereta api. Ia memilih mundur dan menghabiskan masa tua dengan tenang.

Susunan pemain Timnas Indonesia

Ir. Soeratin meninggal dunia pada 1 Desember 1959 di usia 60 tahun. Kendati sudah berpulang puluhan tahun lalu, warisan utamanya yakni PSSI sebagai alat perjuangan, tetap hidup.

PSSI kini menjadi wakil bangsa lewat Timnas Indonesia di kancah sepakbola dunia. Tekad Ir. Soeratin agar sepakbola di Nusantara tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain, terus dijaga oleh penerus-penerusnya.

Itu tadi Soeratin Sosrosoegondo mendirikan PSSI dan menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan bangsa. Semoga artikel ini berguna untuk pembaca sekalian.

(Wikanto Arungbudoyo)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement