Namun begitu, Resky Fandy harus menghadapi tantangan tersendiri. Meski sudah bergabung dalam pemusatan latihan Garuda Nusantara -julukan Timnas Indonesia U-20- kala itu, Resky justru merasa tak percaya diri.

"Awal-awal saya datang ke Cijantung, lokasi TC, saya sangat minder. Sebab, postur anak-anak yang lain besar. Wah ini kayanya sulit. Banyak hal-hal detail yang saya baru tahu di TC. Kondisi tersebut membuat saya minder," tukas Resky.
Sebab, Resky merasa tak memiliki modal yang ideal jika dibandingkan dengan pemain-pemain lain. Ia pun sempat menyesali sebelum datang ke pemusatan latihan Timnas Indonesia U-20 karena di masa remajanya tidak memiliki banyak pengalaman ikut turnamen.
"Saya kecewa saat masih kecil kurang kompetisi. Sementara di sini (Jakarta) kompetisinya bagus. Jadi para pemainnya memiliki mental bertanding yang bagus. Saya mental bertandingnya mungkin kurang karena waktu di kampung yang penting bermain happy saja," ujar Resky.
Namun saat masih di SSB dari kelas 3 SD hingga SMA, Resky sebetulnya beberapa kali mengikuti sebuah turnamen besar, yaitu tiga kali Danone Cup dan tiga kali juga di turnamen yang diselenggarakan oleh Yamaha. Beruntung baginya memiliki wadah lain untuk mengembangkan diri, yaitu masuk tim sekolah untuk tampil di Liga Pendidikan Indonesia (LPI) saat di SMP dan SMA.
Kendati begitu, Resky saat itu belum memiliki mental yang tangguh. Rasa minder di awal-awal TC ia jadikan sebagai batu loncatan dan motivasi untuk bersaing dengan pemain-pemain lain.
Alhasil, Resky pun menjadi langganan Timnas Indonesia U-20 kala itu. Ia masuk dalam tim yang dibawa ke Turnamen Toulon 2017, Piala AFF U-19 2017, Kualifikasi Piala AFC U-19 2018, Piala AFF U-19 2018, dan Piala AFC U-19 2018.
(Dimas Khaidar)