MANAJER Timnas Indonesia saat juara SEA Games 1991 Manila, IGK Manila, mengungkap penyebab kenapa prestasi skuad Garuda seakan macet, termasuk tak pernah kampiun Piala AFF. Pria yang pernah menjabat sebagai manajer Persija Jakarta ini menilai, ada sejumlah alasan kenapa Timnas Indonesia tak kunjung juara di turnamen internasional.
Salah satunya IGK Manila menilai, sistem pembinaan sepakbola di Indonesia sudah mulai usang. Akibatnya, level sepakbola Indonesia tersusul negara-negara Asia Tenggara lain sehingga Timnas Indonesia sulit berprestasi.

(Manajer Timnas Indonesia saat juara SEA Games 1991, IGK Manila. (Foto: Avirista Midaada/MNC Portal Indonesia)
"Sepakbola itu pertama ada stadion, ada pemain, ada wasit, ada organisasi. Hal ini harus satu (tujuan), semua ingin jadi juara," kata IGK Manila saat ditemui di Kota Malang, pada Jumat (6/1/2023).
Menurut IGK Manila, harus ada kompetisi yang berjenjang mulai dari bawah sampai atas, dari kategori junior hingga yang senior. Jika ada potensi pesepakbola bagus di jenjang bawah seharusnya bisa langsung dipromosikan ke level yang lebih tinggi.
"Harus ada kompetisi dari bawah sampai atas, berjenjang, berlanjut, yang bagus di bawah naik, kita enggak naik. Terkadang pemain nasional itu kapan main, kok tiba-tiba jadi pemain nasional," tegas pria berusia 80 tahun ini.
Faktor lain kompetisi yang berhenti seperti pascatragedi Kanjuruhan Malang itu juga berpengaruh. Sebab, tanpa adanya kompetisi membuat pesepakbola berkurang jam terbangnya.
"Kompetisi kita tidak lancar, malah kena hukum. (Akibat tragedi) Kanjuruhan itu kita berapa lama kita enggak main," lanjutnya.

Selain itu, ia mengingatkan jika Timnas Indonesia ingin maju harus lebih sering memilih lawan uji coba yang levelnya di atas skuad Garuda. Dalam pandangan IGK Manila, saat ini uji coba yang dilakukan Timnas Indonesia hanya melawan tim-tim level rendah di Asia Tenggara seperti Kamboja atau Timor Leste.
Sementara itu, negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand dan Vietnam, sudah beberapa kali bertanding melawan negara-negara kuat di Asia seperti Jepang, Arab Saudi, hingga Australia. Satu lagi, IGK Manila juga menggarisbawahi fisik para pemain Timnas Indonesia yang kerap kalah dari personel negara lain.
"(Faktor berikutnya yang lemah) fisik. Saya dulu itu manajer Timnas latihan fisiknya ala tentara, naik gunung lari, mencret pun jadi. Pemain yang enggak mau ikut dikeluarkan. Fisik ini Anda main 2 x 45 menit, perpanjangan waktu harus kuat," lanjut IGK Manila.
IGK Manila berstatus sebagai manajer tim saat Timnas Indonesia merebut medali emas di SEA Games1991 di cabang olahraga sepakbola putra. Ia bersama pelatih asal Rusia bernama Anatoli Fyodorovich Polosin, meramu skuad Timnas Indonesia dari yang tak diunggulkan menjadi juara.
Setelah menang dramatis atas Singapura di semifinal melalui adu penalti 4-2, Timnas Indonesia yang tak diunggulkan bertemu Thailand di final SEA Games 1991. Ferry Hattu dan kawan-kawan kala itu menang dramatis 4-3 lewat drama adu penalti.
Torehan medali emas itu menjadi yang tertinggi di level senior dan belum pernah terulang lagi sampai kini. Sekadar diketahui, saat itu tim yang turun di SEA Games adalah pemain-pemain senior. Baru per 2003, SEA Games diperuntukkan bagi pemain U-23.
(Ramdani Bur)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.