Bahkan karena alasan banyak pemain yang terjangkit star syndrome inilah, pelatih Shin Tae-yong lebih tertarik memanggil pemain-pemain muda. Ambil contoh ketika Timnas Indonesia U-19 yang dipersiapkan turun di Piala Dunia U-20 2021 menjalani pemusatan Latihan di Kroasia.

(Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. (Foto: PSSI)
Shin Tae-yong lebih mudah menerapkan strategi keinginannya karena para pemain yang ditangani lebih mudah diatur. Alhasil, hanya dalam kurun enam bulan, performa David Maulana dan kawan-kawan meningkat pesat, termasuk mengalahkan Qatar 2-1 dan menghajar Hajduk Split 4-0.
“Shin Tae-yong dan tim lebih asyik menangani pemain-pemain yang dibawa TC ke Kroasia. Sebab, para pemain belum terlalu mengenal dunia hiburan, popularitas, sehingga mereka lebih mudah untuk ditangani. Tak heran dalam jangka enam bulan, stamina, fisik dan kebugaran mereka sudah terbentuk,” kata Yunus Nusi.
Dalam kasus ini, bukan hanya federasi yang mesti menjaga para pemain dari masalah star syndrome. Klub-klub juga harus mengambil peran supaya hal-hal ini seperti ini tidak terus-menerus terjadi, dan membuat kualitas sepakbola Indonesia tak kunjung terangkat.
(Ramdani Bur)