Cerita Sedih Eks Pemain PSG yang Harus Koma Selama 39 Tahun

Andryanto Wisnuwidodo , Jurnalis · Selasa 30 Maret 2021 19:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 30 51 2386742 cerita-sedih-eks-pemain-psg-yang-harus-koma-selama-39-tahun-fCcQCAZotU.jpg Jean-Pierre Adams (Foto: The Sun)

SEBUAH cerita tragis dialami oleh mantan pemain Paris Saint-Germain (PSG), Jean-Pierre Adams, yang harus mengalami koma selama 39 tahun usai mengalami kegagalan saat operasi lutut. Kesetiaan sang istri, yakni Bernadette, sendiri menjadi bumbu romantisme dari kisah memilukan yang dialami oleh Adams tersebut.

Apa yang dialami Jean-Pierre Adams awalnya dimaksudkan sebagai operasi rutin. Operasi lutut kecil, yang membuat mantan pesepakbola Jean-Pierre Adams absen selama beberapa bulan. Namun, dosis anestesi yang hampir mematikan sebelum prosedur operasi lutut membuat mantan pemain internasional Prancis itu koma.

Sekitar 39 tahun kemudian, bek ini masih dalam kondisi vegetatif yang panjang. Yang mengharukan adalah ketegaran dan kesetiaan istrinya, Bernadette, yang tidak akan menyerah untuk mendampingi Adams.

Jean-Pierre Adams

Lahir di Dakar, Senegal pada tahun 1948, Adams pindah ke Prancis pada usia sepuluh tahun dan memulai karir sepak bola profesionalnya bersama Nimes pada tahun 1970-an. Sebelum itu dia bekerja di pabrik karet lokal, sampai pemandu bakat menangkap bakat sepak bola Adams.

Dalam beberapa musim, Adams adalah pemain utama di Gard membantu timnya menantang gelar liga. Antara 1972-73, Crocodiles finis kedua di Divisi Pertama dan mencapai semifinal Piala Prancis - yang merupakan era emas bagi klub.

Baca Juga: Bayern Munich Sudah Tak Sabar Lakoni Pertandingan Lawan PSG di Liga Champions 2020-2021

Adams, diberi nama 'The Black Rock', mendapatkan panggilan pertama Timnas Prancis pada tahun 1972 dan dijual ke OGC Nice menjelang musim 1973-74. Pemain spesialis tengah itu menghabiskan empat tahun di Cote d'Azur dan memainkan 144 pertandingan untuk tim.

Selama karirnya, Adams mendapatkan 22 caps untuk Les Bleus. Dia secara teratur dipasangkan dengan legenda Prancis Marius Tresor antara 1972-76. Manajer Prancis pada saat itu Stefan Kovacs menjuluki kemitraan itu 'The Black Guard', setelah penampilan yang mengesankan membungkam tim Polandia yang kuat.

Namun, terlepas dari kehebatan pertahanan mereka, tim Prancis gagal mencetak prestasi. Tahun itu adalah periode kekecewaan bagi tim nasional, yang gagal lolos ke Kejuaraan Eropa pada tahun 1976. Tahun itu adalah penampilan terakhir Adams untuk negaranya - dalam pertandingan persahabatan melawan Denmark.

Pada usia 29 tahun, Adams menandatangani kontrak besar terakhirnya dalam sepak bola dengan PSG . Dalam dua tahun berseraga tim ibu kota Prancis, ia tampil 42 kali, mencetak dua gol, dan mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain terpenting dalam dekade pertama keberadaan klub.

Pujian tentang kemampuannya datang dari rekan satu tim internasional, termasuk gelandang ikonik Henri Michel. Michel menggambarkan Adams sebagai 'kekuatan alam, sangat kuat, penuh niat baik dan determinasi' untuk PSG.

Jean-Pierre Adams

Setelah sempat bermain singkat di klub Divisi 2 Mulhouse, ia mengakhiri karirnya dengan tim FC Chalon pada usia 33 tahun bermain dengan striker Polandia Josef Klose, ayah dari legenda Jerman Miroslav Klose.

Setelah cedera ligamen pecah, Adams memeriksakan diri ke Rumah Sakit Édouard Herriot di Lyon pada tahun 1982. Dia dijadwalkan untuk operasi rutin dan diharapkan meninggalkan rumah sakit pada hari-hari berikutnya.

Namun, semuanya berjalan secara tragis ketika seorang ahli anestesi membuat kesalahan yang fatal dan memberi Adams dosis yang salah sebelum operasi. Atlet yang sehat itu menderita bronkospasme, yang membuat otaknya kekurangan oksigen.

Adams mengalami koma hingga saat ini, di usia 73 tahun. Pada 1990-an, pengadilan memutuskan bahwa baik ahli anestesi maupun peserta pelatihan diberi hukuman percobaan satu bulan, serta denda yang besar.

Beruntung, Adams memiliki Bernadette, istrinya yang setia tetap berada di samping ranjang suaminya, mengurus kebutuhannya.Adams tidak dapat berkomunikasi dan mengekspresikan emosi, tetapi dia masih dapat bernapas, merasakan, makan, dan batuk tanpa bantuan peralatan medis dan tinggal di rumah dekat Nimes

’’Orang-orang di Facebook mengatakan (selang) dia harus dicabut ... Tapi dia tidak dicabut! Saya hanya tidak memiliki keberanian untuk berhenti memberinya makanan dan air,’’ Bernadette mengungkapkan.

Baca Juga: 5 Pesepakbola dengan Tato Aneh, Lionel Messi Punya Gambar Bibir Seksi Istrinya

’’Dia memiliki rutinitas normal. Dia bangun jam 7, makan ... Dia mungkin dalam kondisi vegetatif, tapi dia bisa mendengar dan duduk di kursi roda.’’

Saran untuk mengakhiri penderitaan suaminya melalui eutanasia bukanlah saran yang disukai Bernadette. Dia menentang eutanasia dan menolak untuk menyerah demi Jean-Pierre.

Tapi pendiriannya bukanlah salah satu yang disetujui oleh mantan pasangan mainnya, Tresor. ’’Bahkan jika Jean-Pierre bangun, dia tidak akan mengenali siapa pun. Jadi apakah layak hidup seperti ini? Jika hal serupa terjadi pada saya, saya mengatakan kepada istri saya untuk tidak menahan saya di sini."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini