nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lika-liku Perjalanan Karier Sadio Mane hingga Jadi Pesepakbola Top Dunia

Djanti Virantika, Jurnalis · Sabtu 11 Januari 2020 08:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 10 51 2151589 lika-liku-perjalanan-karier-sadio-mane-hingga-jadi-pesepakbola-top-dunia-hy2XrUkCfy.jpg Sadio Mane jadi salah satu pemain top terbaik dunia. (Foto: @LFC)

BERBICARA soal pesepakbola top dunia, nama Sadio Mane tentu saja tak boleh terlewatkan. Ia merupakan salah satu pesepakbola terbaik Afrika yang telah menorehkan karier gemilang sehingga namanya tersohor di dunia.

Sebelum berada di level karier gemilang seperti saat ini, Mane tentu saja harus melewati beragam momen pahit. Perjalanan kariernya tak bisa terus berjalan sesuai harapan, bahkan pesepakbola asal Senegal itu kerap kali harus melewati masa-masa sulit.

Sadio Mane

Mane terlahir dari keluarga yang memiliki keterbatasan secara finansial. Dia pun akhirnya harus hidup bersama pamannya lantaran orangtuanya memiliki banyak anak. Meski begitu, kondisi ini tak menghalangi cita-citanya untuk menjadi pesepakbola profesional.

Winger yang kini berusia 27 tahun itu pun terus menunjukkan minat besarnya dengan bidang olahraga tersebut. Mane kecil sering menghabiskan waktunya sehari-hari untuk bermain sepakbola bersama teman-temannya di jalan dekat rumah. Ia tak mengenal waktu hingga melakukan hal tersebut pada pagi dan sore hari.

Kecintaan Mane dengan dunia sepakbola semakin tumbuh setelah menyaksikan aksi Tim Nasional (Timnas) Senegal di Piala Dunia 2002. Saat itu, Timnas Senegal mengukir prestasi manis dengan melaju ke babak perempatfinal. Terkesan dengan penampilan pesepakbola top di negaranya, Mane pun memutuskan untuk lebih serius memahami dunia sepakbola.

Mane akhirnya memutuskan untuk mengikuti turnamen demi turnamen kecil yang digelar di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Penampilan yang apik mampu ditunjukkan hingga perhatian besar datang kepada sosoknya dari khalayak ramai.

Meski telah mendapat perhatian dari masyarakat sekitar, Mane tak mendapat restu dari kedua orangtuanya untuk bisa menekuni bidang tersebut. Tetapi, berkat bantuan dari sang paman, izin akhirnya datang dari kedua orangtua Mane untuk lebih serius memahami dunia sepakbola.

Infografis Sadio Mane

Dari situ, pemain yang lahir di Sedhiou, Senegal, pada 10 April 1992, itu mulai mengikuti pelatihan sepakbola di salah satu akademi yang terletak di daerah Dakar, yakni Generation Foot. Meski momen-momen kurang menyenangkan kerap diterimanya saat menjalani pendidikan di sana, Mane tetap fokus mengembangkan kemampuannya.

Alhasil, Mane akhirnya dilirik pemandu bakat dari Prancis. Pada Januari 2012, dia menjalani debut sebagai pesepakbola profesional dengan bergabung ke salah satu klub asal Prancis, yakni Metz. Mane tampil di 19 laga pada musim pertamanya bersama Metz. Tetapi, kariernya tak berjalan panjang di sana. Pada 31 Agustus 2012, ia pindah ke klub asal Austria, yakni Red Bull Salzburg.

Di Salzburg, Mane dapat tampil gemilang. Hattrick pertamanya untuk tim tersebut pun dapat dicetak hanya dalam waktu beberapa bulan setelah kepindahannya, tepatnya pada 31 Oktober dalam kemenangan tandang 3-1 di Kalsdorf. Performanya terus meningkat hingga Mane akhirnya berhasil mengantarkan Salzburg meraih gelar juara Liga Austria pada musim 2013-2014.

Meski telah mengukir karier apik, Mane tetap merasa kurang puas. Ia pun bertekad mengepakkan sayap lebih lebar dengan bermain di kompetisi yang lebih kuat, yakni Liga Inggris. Pada akhir Agustus 2014, Mane pun memaksa Salzburg untuk menjualnya. Tetapi, keinginannya tampak tak diindahkan sehingga Mane memutuskan melakukan aksi protes dengan tak datang ke pelatihan dan laga paling penting bagi Salzburg, yakni saat penentuan untuk lolos ke Liga Champions.

Pihak Salzburg akhirnya melunak dan memberi lampu hijau kepada Mane untuk meninggalkan klub. Pada 1 September 2014, ia dijual ke salah satu tim di Liga Inggris, yakni Southampton, dengan mahar sebesar 11,8 juta poundsterling dan ditapuk kontrak selama empat tahun. Di sana, Mane juga mampu tampil apik. Di musim debutnya, ia mencetak 10 gol dari 32 laga di semua kompetisi.

Tren positif Mane pun terus belanjut ke musim berikutnya hingga akhirnya penampilannya menarik minat dari Liverpool. Pada 28 Juni 2016, ia pun meneken kontrak di Liverpool dengan biaya transfer sebesar 34 juta poundsterling. Ia ditapuk kontrak selama lima tahun. Biaya transfer tersebut membuat Mane menjadi pemain paling mahal di Afrika dalam sejarah saat itu.

Karier Mane terus memuncak saat bermain bersama Liverpool. Pada 20 April 2017, namanya pun masuk ke daftar PFA of the Year setelah mencetak 13 gol di Liga Inggris. Ia juga dianugerahi penghargaan Liverpool Player of the Season pada 9 Mei 2017.

Bersama Liverpool, aksi fantastisnya terus dapat terlihat sampai saat ini. Ia pun berhsil membawa Liverpool meraih sejumlah gelar juara bergensi, mulai dari Liga Champions, Piala Dunia Klub, serta Piala Super Eropa. Atas penampilan apiknya di Liverpool, beragam penghargaan individu pun berhasil dikantongi Mane. Terbaru, ia berhasil meraih menyabet penghargaan Pemain Terbaik Afrika 2019.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini