NAMA Kasper Schmeichel sempat mencuat saat dipercaya mentas sebagai kiper utama Manchester City pada Liga Inggris 2007-2008. Saat itu pelatih Man City, Sven-Goran Eriksson, memercayai Kasper untuk turun dalam tujuh laga awal Man City di Liga Inggris 2007-2008.
Publik saat itu langsung membanding-membandingkan kiprah Kasper dengan sang ayah, Peter Schmeichel. Karena tak kuat dengan tekanan yang ada, Kasper mengalami penurunan kepercayaan diri dan posisinya digantikan Joe Hart.

(Kasper saat membela tim muda Manchester City)
Sejak saat itu Kasper kemudian hanya membela tim-tim kecil seperti Darlington, Bury, Falkirk FC, Cardiff City, Coventry City, Notts County hingga akhirnya berlabuh di Leicester City pada 2011. Bersama Leicester itulah, karier Schmeichel perlahan membaik, hingga akhirnya merebut trofi Liga Inggris 2015-2016 bersama The Foxes –julukan Leicester.
Akan tetapi, pencapaian tertinggi Kasper sebagai penjaga gawang tidak dicapai pada 2016. Ia justru meraih prestasi tertinggi pada 2018, bertepatan dengan penganugerahan pemain terbaik dunia FIFA 2018.
Saat itu Kasper dinobatkan sebagai penjaga gawang nomor tiga terbaik di dunia, di bawah Thibaut Courtois dan Hugo Lloris. Lantas, apa dasar penilaian panelis hingga menempatkan Kasper di posisi tiga?