URUSAN mencetak gol bisa dibilang tugas utama seorang penyerang. Tidak heran, gelar top skor di sebuah turnamen atau kompetisi kerap jatuh kepada penyerang-penyerang tajam. Namun, menjadi pertanyaan jika gelar top skor tidak disabet pemain depan, melainkan digaet pesepakbola yang beroperasi di wilayah tengah.
Juventus pernah memiliki gelandang tajam yang akrab dengan gelar top skor. Sosok yang dimaksud adalah Michel Platini. Manajemen Bianconeri –julukan Juventus– mendatangkan Platini dari AS Saint-Etienne pada musim panas 1982.
Ketika digaet, nama Platini sudah tidak asing lagi di telinga pencinta sepakbola dunia. Sebelum bergabung bersama Juventus, Platini sempat membawa Saint-Etienne menjuarai Liga Prancis 1980-1981.
Saat itu, Platini menduduki posisi empat pencetak gol terbanyak dengan koleksi 20 gol, terpaut empat bola dari Dello Onis (Tours) yang merebut status top skor. Melihat ketajaman serta visi bermain yang dimiliki Platini itulah, manajemen Juventus berani memboyong pria yang kemudian menjadi Presiden UEFA tersebut.

Keputusan tepat dibuat manajemen Juventus. Di tiga musim awal membela Juventus, Platini langsung merebut gelar top skor Liga Italia atau biasa disebut Capocannoniere. Pada Liga Italia 1982-1983, Platini mengemas 16 gol, 1983-1984 (20) dan 1984-1985 (18).
Gol-gol yang dibuat Platini pun menghasilkan serangkaian gelar bagi Juventus, dua di antaranya adalah trofi Liga Italia 1983-1984 dan 1985-1986. Tidak hanya tampil apik di kompetisi lokal, Platini juga bersinar di kompetisi antarklub Eropa yakni Liga Champions.