5 Momen Terburuk dalam Sejarah Piala Dunia, Nomor 1 Paling Miris

Hendry Kurniawan, Jurnalis · Rabu 11 Juli 2018 17:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 11 51 1921018 5-momen-terburuk-dalam-sejarah-piala-dunia-nomor-1-paling-miris-HRsNiJESOE.jpg Trofi Piala Dunia (Foto: AFP)

TIDAK ada yang memungkiri bahwa Piala Dunia merupakan ajang paling dinantikan oleh seluruh pencinta sepakbola di jagat raya. Berkumpulnya pemain-pemain top dari berbagai penjuru, menuguhkan pertandingan yang atraktif dan menghibur. Seperti yang terjadi pada gelaran Piala Dunia 2018 ini, di mana hampir seluruh rangkaian acara berlangsung meriah dan lancar.

Kendati demikian, nyatanya tak melulu gelaran Piala Dunia berlangsung tanpa hambatan. Pasalnya, sejarah mencatat bahwa terdapat beberapa turnamen Piala Dunia yang memiliki sisi kelam yang menodai citra sepakbola. Berikut adalah lima momen terburuk dalam sejarah Piala Dunia.

5. Skandal di Gijon (Piala Dunia 1982)

Jerman Barat vs Aljazair 1982

Sebuah drama tersaji di laga pamungkas penyisihan Grup 2 Piala Dunia 1982. Pasalnya, kala itu Austria dan Jerman Barat yang bertanding di laga pamungkas menerapkan permainan ‘sepakbola gajah’ agar kedua tim sama-sama bisa lolos ke fase berikutnya.

Sebelum pertandingan tersebut dimulai, Aljazair sebenarnya memuncaki Grup 2 dengan empat poin, sedangkan Jerman Barat dan Austria mengemas tiga angka. Akan tetapi, baik Austria dan Jerman Barat memiliki jumlah gol lebih baik dari Aljazair. Sehingga, jika mereka bermain imbang, maka kedua tim akan sama-sama diuntungkan lantaran bisa lolos ke fase berikutnya karena unggul jumlah gol dari Aljazair.

Begitulah yang kemudian terajdi, di mana Austria dan Jerman Barat hanya mencari hasil imbang. Hasilnya, pertandingan pun berjalan monoton dan tidak menarik. Hal tersebut membuat para penonton kecewa dan wajah sepakbola pun tercoreng. Sejak saat itu FIFA membuat peraturan bahwa matchday terakhir di fase grup harus dimainkan secara bersamaan agar tak ada lagi kecurangan.

4. Lolosnya Korea Selatan ke Semifinal (Piala Dunia 2002)

Korsel vs Italia 2002

Korea Selatan mampu melaju hingga semifinal Piala Dunia 2002. Meski capaian tersebut terdengan luar biasa, namun nyatanya terdapat banyak sekali skandal di balik kegemilangan tersbeut. Pasalnya, Korea Selatan yang kala itu menjadi negara tuan rumah sangat diuntungkan oleh wasit dengan keputusan-keputusan aneh yang dibuat oleh sang pengadil.

Pada babak 16 besar, Korsel berhadapan dengan Italia. Dalam laga tersebut, laga berlanjut hingga babak tambahan lantaran kedua kesebelasan bermain imbang di waktu normal. Di babak tambahan, Italia sebenarnya mencetak gol lebih dulu, namun wasit menganulirnya karena off-side. Parahnya lagi, di menit ke-103, Francesco Totti mendapat kartu merah karena dianggap melakukan diving. Akhirnya, Korsel pun mencetak gol melalui Ahn Jung-Hwan di menit 117 yang membuat Italia tersingkir.

Kontroversi terus berlanjut di babak perempatfinal. Korsel yang berjumpa dengan Spanyol kembali diuntungkan. Pasalnya, dua gol yang diciptakan Spanyol pada laga ini dianulir oleh wasit. Korsel akhirnya lolos ke semifinal karena menang adu penalti atas Spanyol.

3. Transaksi Benito Mussolini (Piala Dunia 1934)

Timnas Italia 1934

Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934 setelah pimpinan mereka kala itu, Benito Mussolini melakukan negosiasi sengit dengan FIFA. Disebutkan bahwa pada masa itu Mussolini ingin menyebarkan paham fasis ke dalam sepakbola, sehingga ia pun mengupayakan berbagai cara untuk bisa membuat Italia berjaya.

Mussolini disebutkan telah menyogok para pemain Yunani, lawan Italia di praturnamen agar perjalanan Gli Azzurri mulus hingga putaran final. Selain itu, Mussolini juga dikabarkan menyogok para wasit sehingga membuat Italia menjalani pertandingan dengan mudah. Pada laga melawan Spanyol di perempatfinal misalnya, wasit tidak meniupkan peluit saat para pemain Italia melakukan pelanggaran.

Tak ayal, Italia pun keluar sebagai juara Piala Dunia 1934 di negeri mereka sendiri. Karena pada saat itu belum ada televisi, maka sulit untuk memercayai apa yang terjadi. Disebutkan saat itu media dikontrol oleh kaum fasis besutan Mussolini.

2. Maradona Gagal Tes Doping (Piala Dunia 1994)

Diego Maradona 1994

Pada gelaran Piala Dunia 1994 dilangsungkan, Diego Maradona sebenarnya sudah berada di pengujung kariernya. Pasalnya, pada musim 1993-1994, Maradona hampir sama sekali tidak bermain di musim tersebut bersama klub barunya Newell’s Old Boys. Namun begitu, Maradona yang kala itu berusia 33 tahun tetap dipercaya untuk menjadi Kapten Timnas Argentina di Piala Dunia 1994.

Pada dua laga perdana di Piala Dunia 1994, Maradona sebenarnya tampil cukup apik, di mana ia memberi sumbangan satu gol dan satu assist. Sayangnya, setelah itu ia dikirim pulang oleh FIFA lantaran gagal tes doping. Pasalnya, Maradona positif menggunakan efedrin setelah melakukan pengecekan.

FIFA menemukan lima zat terlarang dari darah Maradona ketika dokter Michel d’Hooghe mengklaim bahwa lima zat yang ditemukan tidak dapat ditemukan dalam satu obat. Dipercaya bahwa konsumsi efedrin dalam konsentrasi yang lebih besar dapat bertindak sebagai stimulan adrenalin untuk meningkatkan energi atau menurunkan berat badan.

1. Penembakan Andres Escobar (Piala Dunia 1994)

Andres Escobar 1994

Sejarah terkelam pada Piala Dunia terjadi dalam gelaran 1994 kala Timnas Kolombia berhadapan dengan Amerika Serikat di fase grup. Pada laga tersebut, bek Kolombia, Andres Escobar, melakukan gol bunuh diri yang membuat negaranya kalah dari Amerika Serikat dengan skor 1-2. Kekalahan tersebut pun membuat Kolombia gagal lolos ke fase gugur.

Lima hari setelah tersingkirnya Kolombia dari gelaran Piala Dunia, Escobar didapati meninggal dunia di tempat parkir sebuah klub malam yang berada di kota asalnya. Escobar meninggal setelah ditembak sebanyak enam kali. Dikabarkan bahwa si penembak selalu meneriakkan ‘Gol!’ setelah setiap kali melepaskan satu tembakan.

1 / 5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini