SORE itu di Pasadena, matahari masih menjulang tinggi. Hari yang begitu cerah menjadi semakin sempurna ketika salah satu stadion termegah di Amerika Serikat, Rose Bowl, mengadakan pertandingan Piala Dunia antara Amerika Serikat (AS) melawan Kolombia.
Saat itu keduanya tergabung dalam Grup A dan pertandingan tersebut merupakan pertandingan kedua babak penyisihan grup. Sebelum saling bertemu, AS menahan imbang Swiss 1-1 di Pontiac. Sementara Kolombia yang merupakan salah satu tim yang diunggulkan, tumbang di tangan Rumania 1-3.
Pertandingan dimulai pukul 16.30 waktu setempat. Kolombia mengawali laga dengan impresif, menekan dan tidak memberikan celah sedikit pun untuk tim tuan rumah. Tidak ada rasa gugup yang ditunjukkan Kolombia kendati di pertandingan pertama mengalami kekalahan.
Akan tetapi kepercayaan diri Los Cafeteros – julukan Kolombia – runtuh seketika pada saat gol bunuh diri dilakukan oleh bek mereka, Andres Escobar, pada menit 35. Segalanya berputar 180 derajat, kepercyaan diri AS menanjak tinggi.
Alhasil gol kedua tercipta pada menit 52 melalui sepakan Earnie Stewart. Kolombia hanya bisa membalas pada menit 90 melalui Adolfo Valencia yang memanfaatkan bola muntah. Meski sudah berusaha setengah mati mengejar ketertinggalan, Kolombia akhirnya harus takluk.
Fans Kolombia dibuat frustrasi ketika mengetahui negaranya tak lolos ke babak selanjutnya. Meski menang 2-0 di pertandingan terakhir melawan Swiss, pasukan Francisco Maturana tak memiliki cukup poin untuk keluar dari penyisihan grup.
Escobar dinilai menjadi biang keladi kegagalan Kolombia di Piala Dunia 1994. Para petaruh di bursa judi yang pada saat itu memang begitu massif di Kolombia dikabarkan mengalami kerugian besar akibat tidak lolosnya Kolombia ke fase berikutnya.
Satu hari setelah kembali ke Kolombia, Escobar memutuskan untuk nongkrong dengan beberapa temannya di sebuah bar bernama El Indio, melepas segala penat setelah gagal membawa negaranya berprestasi di Piala Dunia. Baru pada pukul 03.00 dini hari pada 2 Juli 1994 ia kembali ke rumah.
Namun, ketika ia sudah kembali ke mobilnya tak berapa lama tiga pria asing meneriakinya dan menembakinya. Saat itu 12 tembakan terdengar, Escobar tidak luput dari 12 tembakan tersebut. Setiap satu tembakan, eksekutor misterius tersebut berteriak “Gooooll!!” tentunya dengan maksud untuk mengejek gol bunuh diri yang diciptakannya.
Dihadapkan dengan 12 tembakan, Escobar tidak bisa menghindar. Ia ditemukan sekarat di dalam mobilnya. Ketiga pria asing yang menembaki Escobar lalu kabur dengan menggunakan mobil pickup. Escobar yang sudah banyak mengeluarkan darah akibat berondongan selusin tembakan dibawa ke rumah sakit, namun 45 menit kemudian pria yang saat itu masih berusia 27 tahun tidak terselamatkan nyawanya.
Pembunuh Escobar sukses ditangkap di malam harinya pada tanggal yang sama. Humberto Castro Munoz, seorang bodyguard dari sindikat pengedar narkoba terbesar di Kolombia, ditetapkan sebagai pelaku. Sehari setelah ditangkap ia mengaku dirinya lah yang membunuh Escobar. Dia dihukum 43 tahun penjara.
Pembunuhan Escobar menjadi pukulan telak untuk dunia sepakbola saat itu, terutama untuk publik Kolombia. Diperkirakan 120 ribu orang hadir dalam pemakaman pemain yang membela Atletico Nacional tersebut. Escobar dikenal publik Kolombia semasa hidupnya sebagai sosok pesepakbola yang selalu bekerja keras dan jujur di dalam lapangan.
Bahkan sosoknya dijadikan panutan untuk anak-anak, terutama yang ingin menjadi pesepakbola. Kematiannya juga sangat disayangkan karena ia masih berada di usia keemasan yakni 27 tahun. Pasca-tewasnya Escobar, keluarganya mendirikan Andres Escobar Project yang memiliki misi untuk menolong anak-anak untuk belajar sepakbola.
(Fajar Anugrah Putra)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.