“Tiga bulan saya harus beradaptasi. Saya sulit berkonsentrasi. Saya bermain di lapangan tapi pikiran ke kampung. Gak bisa menikmati. Saya sering murung, suka menyendiri kadang, sering menangis di belakang teman-teman,” kenangnya.
Lambat laun ia mampu keluar dari duka itu dan menunjukkan permainannya. Hanya lima bulan membela PSIM, Musawir kembali ditarik ke Persiraja. Kondisi Laskar Rencong sendiri saat itu belum stabil.
Hilangnya kiper senior M. Basyir dan ikon klub Irwansyah, membuat Persiraja seperti kehilangan ruh. Tak ada lagi pemimpin dan bomber tajam di lini depan usai ditinggal Irwansyah.
Mantan pemain Timnas Indonesia itu adalah sosok striker sempurna bagi Persiraja: jago dribbling, kontrol bolanya baik, tendangan kedua kakinya juga sama keras.
Kerap jadi momok penjaga gawang lawan. “Dia tidak tergantikan,” kata Musawir yang pernah beberapa kali berduet dengan Irwansyah pada musim perdananya, 2003.