JAKARTA - Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (I.League), Ferry Paulus, menegaskan komitmennya agar suporter tamu tetap bisa mendampingi tim kesayangannya pada laga-laga Super League 2026-2027. Menurut Ferry, penegakan dan penguatan sanksi menjadi kunci utama agar kebijakan tersebut tetap berjalan aman.
Langkah I.League melonggarkan aturan suporter tandang pada musim 2026–2027 sejatinya memberikan angin segar bagi iklim sepak bola nasional. Operator kompetisi mengizinkan kehadiran pendukung tim tamu dengan persyaratan tertentu, meski larangan khusus tetap berlaku untuk laga bertensi tinggi seperti Persija Jakarta melawan Persib Bandung atau Persebaya Surabaya berhadapan dengan Arema FC.
Dampak positif kelonggaran ini mulai terasa hingga pekan keempat kompetisi. Salah satu momennya terlihat saat ribuan The Jakmania hadir langsung memberi dukungan saat Persija bertandang ke markas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, pekan lalu.
Namun, keharmonisan tersebut ternoda oleh dua insiden kekerasan di luar lapangan. Bus Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 diserang oleh oknum tidak bertanggung jawab di Rest Area KM 360 Batang, Jawa Tengah, pada Minggu 11 Oktober 2026, disusul penyerangan bus The Jakmania Cikampek di Tol Palikanci KM 200 sehari kemudian.
Rangkaian peristiwa tersebut mendorong I.League dan PSSI untuk bergerak cepat. Operator kompetisi mendesak adanya penguatan sanksi terhadap setiap aksi keonaran yang mencederai nilai-nilai sportivitas, khususnya pelanggaran yang terjadi di dalam stadion.
Langkah tegas ini diambil I.League semata-mata demi menjaga agar kebijakan kelonggaran suporter tandang tidak dicabut kembali. Penegakan hukuman yang terukur diharapkan mampu memberikan efek jera tanpa merugikan pihak-pihak yang telah tertib.
"Kami ingin suporter tamu tetap bisa hadir. Justru karena itulah aturan harus ditegakkan lebih tegas," kata Ferry dilansir dari laman resmi PT Liga Indonesia Baru (I.League), Jumat (16/10/2026).
"Jangan sampai kesempatan yang sudah diperjuangkan bersama selama ini kembali hilang hanya karena tindakan segelintir orang. Kami tidak ingin klub dan mayoritas suporter yang sudah tertib ikut menjadi korban," tambahnya.
Ferry meyakini bahwa langkah korektif ini akan membawa dampak positif jangka panjang bagi industri sepak bola Indonesia. Ia berkomitmen menjadikan stadion sebagai ruang yang ramah dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Ketegasan ini bukan untuk menghukum sepak bola Indonesia, melainkan untuk melindungi masa depannya," tutur Ferry.
"Kami ingin kompetisi terus maju, stadion semakin ramai, dan suporter bisa mendukung klub kebanggaannya dengan aman. Sepak bola kita sudah melangkah maju, dan kita tidak boleh membiarkannya mundur lagi," pungkasnya.
(Rivan Nasri Rachman)