Kebutuhan tersebut bahkan mengubah peran para pemain di lapangan. Ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir, garis pertahanan Indonesia semakin tinggi. Diks ikut bergerak jauh ke depan, sementara Emil Audero pun meninggalkan gawangnya untuk membantu serangan. Keduanya turut mengambil risiko demi mencari gol tambahan.
Diks melihat keberanian tersebut sebagai bagian dari karakter yang sedang dibangun Indonesia. Ia pun bangga dengan perjuangan para pemain Timnas Indonesia.
“Saya kira begitu, ya. Ini adalah proses yang sedang kami jalani. Kami telah bekerja bersama Pelatih John [Herdman] mengenai hal ini, bahwa kami harus selalu siap bangkit dan membalikkan situasi kapan saja. Saya pikir ini adalah momen seperti itu. Ketika Anda harus bermain dengan 10 pemain selama 60 menit, dan sekarang harus bertarung mengejar selisih gol, saya sangat bangga dengan perjuangan anak-anak,” terangnya.
Perjuangan itu datang hanya beberapa hari setelah Indonesia bermain dengan 10 pemain selama sebagian besar laga melawan Malaysia. Pertandingan tersebut berakhir tanpa gol, membuat kedua tim tetap berada di puncak klasemen dan membawa persaingan hingga matchday terakhir.
(Erha Aprili Ramadhoni)