PERSAINGAN di Grup A turnamen FIFA ASEAN Cup 2026 mendadak memanas dan diwarnai ketegangan verbal menyusul hasil akhir laga penentuan yang penuh kontroversi. Sederet drama tercipta di lapangan hijau, memicu perdebatan sengit di antara para pelatih dan asosiasi sepak bola.
Rangkaian pertandingan pamungkas yang berlangsung pada Kamis 1 Oktober 2026 malam kemarin menyajikan kejutan luar biasa di dua stadion berbeda. Malaysia secara mengejutkan sukses melumat Singapura dengan skor telak enam gol tanpa balas di Stadion si Jalak Harupat, Bandung.
Kemenangan besar tersebut sempat membuat kubu Malaysia bersorak gembira karena merasa tiket ke partai final sudah berada di tangan. Namun, situasi berubah drastis setelah Timnas Indonesia tampil beringas dan menang 9-2 atas Bangladesh di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Timnas Indonesia berhasil menggilas Bangladesh dengan skor fantastis 9-2 lewat tambahan gol di menit-menit akhir pertandingan. Hasil tersebut membuat skuad Garuda berhak melaju ke final berkat keunggulan produktivitas gol atas Malaysia.
Menanggapi hasil grup yang begitu dramatis, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, melontarkan komentar bernada keheranan terkait kemenangan besar Malaysia atas Singapura. Ia merasa skor tersebut sangat janggal jika berkaca pada rekam jejak pertemuan kedua tim.
"Saya sudah pernah terlibat dalam pertandingan dengan rekor skor tinggi di Kanada, mencetak 9 hingga 12 gol—jumlah tertinggi yang bisa dicetak timnas pria. Tapi ini adalah laga terliar yang pernah saya jalani. Dan kemudian, kita semua tahu apa yang terjadi di laga lainnya," ujar Herdman usai laga, Jumat (2/10/2026).
Pelatih asal Inggris itu bahkan secara terbuka mempertanyakan bagaimana Timnas Malaysia tersebut bisa menang dengan margin sebesar itu. Menurutnya, duel Malaysia kontra Singapura biasanya selalu berjalan ketat dan minim skor masif.
"Saya tidak habis pikir bagaimana Timnas Malaysia bisa membantai Singapura dengan skor 6-0. Jika melihat catatan pertemuan sebelumnya, skor ekstrem seperti itu tidak pernah terjadi. Biasanya pertandingan berakhir 1-1, 2-1, atau p2-0, bahkan margin terbesar pun hanya 4-1. Kami sangat terkejut melihat gol-gol tercipta begitu saja," tambahnya.