MEGABINTANG Al Nassr, Cristiano Ronaldo lagi-lagi menjadi sorotan karena keputusannya yang tiba-tiba meninggalkan pemusatan latihan (TC) Timnas Portugal jelang laga melawan Denmark. Menariknya, ternyata alasan Ronaldo meninggalkan TC Portugal karena CR7 merasa dikhianati oleh pelatih Jorge Jesus dan Federasi Sepakbola Portugal (FPF).
Semuanya berawal dari Ronaldo yang merasa kecewa berat akibat hanya menjadi pemain cadangan tanpa dimainkan saat Portugal menang 2-1 atas Norwegia, Senin 28 September 2026. Situasi semakin memanas setelah ia harus menjalani pemanasan selama hampir 30 menit, namun sama sekali tidak diturunkan oleh pelatih.
Selepas kemenangan 2-1 atas Norwegia, Ronaldo langsung masuk ke ruang ganti dengan rasa geram dan memilih absen dari sesi latihan tim. Ia menuntut kejelasan mengenai masa depan serta perannya di bawah arahan pelatih kepala Jorge Jesus yang baru direkrut musim panas ini.
Bahkan, Presiden FPF, Pedro Proenca, sempat terbang langsung ke Kopenhagen guna meredakan ketegangan yang terjadi. Sayangnya, upaya mediasi tingkat tinggi tersebut gagal membuahkan hasil positif, memaksa sang penyerang veteran pulang lebih awal.
Di balik kepergiannya yang mendadak, sahabat dekat sang pemain sekaligus jurnalis, Edu Aguirre membeberkan kronologi sebenarnya di balik layar. Dalam acara televisi Spanyol El Chiringuito, ia mengungkapkan adanya perjanjian pribadi yang diingkari oleh sang juru taktik.
"Dalam pertemuan privat antara Cristiano, Presiden FPF, dan Jorge Jesus, pelatih sempat meminta maaf kepada Cristiano karena membuatnya melakukan pemanasan selama 30 menit tanpa memainkannya," ungkap Aguirre, dilansir dari Give Me Sport, Kamis (1/10/2026).
Menurut Aguirre, pelatih Jorge Jesus juga sempat berjanji akan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui konferensi pers sekaligus meluruskan kesalahpahaman. Namun, janji tersebut dinilai tidak pernah ditepati oleh sang pelatih kepala.
Alih-alih meredakan situasi, pernyataan publik sang pelatih justru membuat Ronaldo merasa dikhianati dan diposisikan seolah-olah dirinya tidak lebih dari pemain biasa. Hal inilah yang memicu kemarahan puncaknya hingga memutuskan angkat kaki dari skuad.