MENJELANG perhelatan Piala Dunia 2026, tensi geopolitik kembali membayangi lapangan hijau. Isu partisipasi Iran yang terancam akibat konflik dengan Amerika Serikat hingga kebijakan deposit visa senilai USD15 ribu bagi suporter negara tertentu menjadi awan mendung bagi turnamen musim panas mendatang. Namun, kontroversi politik di tubuh FIFA bukanlah hal baru.
Sejarah mencatat, pada Kualifikasi Piala Dunia 1958 di Swedia, terjadi fenomena unik di mana tiga negara memilih mundur demi prinsip politik. Kejadian ini membuat Israel nyaris lolos ke putaran final tanpa berkeringat satu kali pun. Lantas negara mana saja yang dimaksud?
Pada kualifikasi Piala Dunia 1958, Israel tergabung dalam zona Afrika dan Asia. Turki, yang saat itu diundi berada di grup yang sama dengan Israel, mengajukan keberatan.
Timnas Turki mendesak FIFA agar dipindahkan ke zona kualifikasi Eropa. Karena permintaan tersebut ditolak oleh FIFA, Turki memutuskan untuk mengundurkan diri, yang secara otomatis meloloskan Israel ke putaran kedua.
Di putaran kedua, giliran Timnas Indonesia yang dijadwalkan bertemu dengan Israel. Di tengah gejolak politik dalam negeri saat itu, pemerintah Indonesia meminta FIFA agar laga digelar di tempat netral guna menghindari isu diplomatik.
Namun, FIFA bersikap kaku dan menolak permohonan tersebut. Alhasil, Indonesia memilih angkat kaki dari kualifikasi, memberikan jalan cuma-cuma bagi Israel menuju babak final.
Israel kemudian melaju ke babak akhir kualifikasi zona Afrika-Asia dan dijadwalkan bertemu Sudan. Mengikuti jejak Mesir yang sudah lebih dulu mundur akibat ketegangan setelah invasi Israel ke Terusan Suez tahun 1956, Sudan juga menunjukkan solidaritasnya.
Timnas Sudan menolak keras bertanding melawan Israel, sehingga Israel pun dinobatkan sebagai pemenang zona tersebut tanpa memainkan satu pertandingan pun.
Pada akhirnya Israel tetap gagal lolos ke Piala Dunia 1958. Sebab, di playoff antarkonfederasi di Swedia, Israel kalah dalam pertandingan melawan Wales dan tidak berpartisipasi dalam turnamen Piala Dunia 1958.
(Rivan Nasri Rachman)