Hector Souto Tahu Cara agar Futsal Indonesia Makin Berprestasi

Cikal Bintang, Jurnalis
Rabu 22 April 2026 01:01 WIB
Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto. (Foto: Aldhi Chandra/Okezone)
Share :

JAKARTA – Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, memberikan pandangan terkait realitas pembinaan pemain muda di Tanah Air saat menjalankan program deteksi bakat. Meski memuji kualitas individu pemain lokal, pelatih asal Spanyol ini menilai Indonesia memiliki kelemahan fatal pada sistem pengembangan pemain yang selama ini dijalankan.

Hector Souto bersama Federasi Futsal Indonesia (FFI) saat ini tengah gencar berburu pemain berbakat untuk membangun skuad Timnas Futsal Indonesia U-17. Program ini merupakan langkah strategis untuk membentuk tim nasional masa depan yang lebih kompetitif.

Bekerja sama dengan Asosiasi Futsal Provinsi (AFP), pencarian bakat ini akan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Aceh sampai Sorong. Para pemain muda yang terpilih nantinya berkesempatan untuk berkompetisi dalam Mini World Cup Futsal yang akan digelar di Spanyol pada 24-28 Juni 2026 mendatang.

Selama menjalankan misi pencarian tersebut, Souto mengaku kagum melihat fakta bahwa Indonesia sebenarnya tidak pernah kekurangan pemain berbakat. Namun, mantan pelatih yang sukses membawa Garuda meraih emas SEA Games 2025 ini menilai ada kesalahan sistemik dalam mengelola bakat-bakat tersebut.

"Indonesia tidak punya masalah talenta. Indonesia punya masalah sistem," kata Souto dalam unggahan akun Instagram pribadinya (@souto.h), Rabu (22/4/2026).

Timnas Futsal Indonesia di Piala AFF Futsal 2026 (Foto: Timnas Futsal Indonesia)

1. Pentingnya Pembinaan sejak Usia Dini

Menurut Souto, pengembangan bakat pemain sejatinya tidak bisa dimulai mendadak saat pemain sudah menginjak usia 17 tahun. Dia menegaskan bahwa fondasi permainan seharusnya sudah ditanamkan kepada para pemain sejak mereka masih berusia dini.

"Sementara negara lain mengembangkan pemain sejak usia 7 tahun, di sini kita sering tiba di level U-17 dengan harus mulai dari nol; mencari pemain, menilai pemain dengan cepat, dan mengambil keputusan dalam waktu singkat," tutur Souto.

Sistem instan seperti itu, menurut Souto, menyebabkan Indonesia kehilangan periode emas dalam mengasah kemampuan fundamental pemain muda. Ia menekankan bahwa usia 17 tahun seharusnya menjadi fase penyempurnaan, bukan fase belajar dasar dari awal.

 

"Pemain dibentuk sejak usia 9, 12, 15 tahun. Lalu disempurnakan setelahnya," ujar Souto.

2. Empat Faktor Kemajuan Futsal Eropa

Souto menjelaskan bahwa pola pembinaan terstruktur seperti itu sudah menjadi standar di negara-negara maju, khususnya di Eropa. Ia mengungkapkan ada empat faktor kunci yang membuat olahraga futsal di benua biru bisa sangat dominan.

Keempat faktor tersebut adalah: kompetisi yang terstruktur berdasarkan kelompok usia, pemantauan berkelanjutan terhadap pemain lokal, sistem deteksi talenta yang lebih baik, serta transisi alami menuju level elit.

Pelatih Timnas Futsal Indonesia. Hector Souto. (Foto: Aldhi Chandra/Okezone)

Pada akhirnya, Souto tetap optimistis bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menembus level tertinggi dunia di cabang futsal. Ia sangat berharap sistem deteksi talenta yang sedang diaktifkan melalui AFP ini dapat terus berlanjut secara konsisten.

"Indonesia memiliki potensi besar. Tetapi potensi tanpa struktur telah terbuang selama puluhan tahun," sambung Souto.

"Saatnya benar-benar mengaktifkan sistem AFP. Bukan hanya untuk hari ini. Untuk 10 tahun ke depan," imbuhnya.

(Rivan Nasri Rachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya