KISAH sedih Yance dan Yakob Sayuri, pemain Malut United yang jadi korban rasisme usai lawan Persib Bandung, menarik untuk diulas. Sebab, keduanya berani melawan tindakan tercela tersebut.
Tragedi ini menjadi cerminan betapa diskriminasi masih mengotori dunia sepakbola Indonesia yang seharusnya menjadi wadah persatuan dan sportivitas. Segalanya berawal dari kemenangan tak terduga Malut United atas Persib Bandung dengan skor 1-0 dalam lanjutan Liga 1 2024-2025.
Bermain di kandang sendiri di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Maluku Utara, Jumat 2 Mei 2025, tuan rumah menang berkat gol tunggal Wahyu Prasetyo (65’). Hasil ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena Persib sedang dalam tren positif dan di ambang mengunci gelar juara.
Namun, euforia kemenangan itu berubah menjadi kepahitan ketika Yance dan Yakob dibanjiri komentar rasis di media sosial. Ini bukan pertama kalinya mereka mengalami hal seperti itu.
Sebelumnya, keduanya juga kerap menerima hinaan bernuansa rasial dari oknum-oknum tak bertanggung jawab. Selama ini, Yakob dan Yance memilih bersabar. Namun, mereka tak bisa terus diam ketika menyasar keluarga.
"Kami sudah sering menerima ucapan rasis, bahkan hinaan kepada anak dan keluarga," ungkap keduanya.
Kini, mereka memutuskan untuk melawan. Kakak beradik yang sempat menjadi bagian Timnas Indonesia itu mengadukan kasus tersebut ke Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) dan sedang mempertimbangkan untuk melaporkannya ke polisi.
Mereka juga mengirim somasi kepada beberapa akun Instagram yang terlibat dalam aksi rasisme. Dalam surat somasi yang diunggah, tercantum enam akun Instagram yang diduga melakukan rasisme: -@pikz97, -@anggarama88, -@rio.ramdani_, @hadifikri04, @gcattur, @kadekagung45.
Keenam akun tersebut diberi tenggat waktu 1x24 jam untuk meminta maaf secara terbuka. Jika tidak dipenuhi, Yance dan Yakob siap menempuh jalur hukum tanpa kompromi.
Secara tegas, duo pemain Malut United ini mengutuk segala bentuk rasisme. Yakob dan Yance menegaskan sepakbola semestinya menjadi wadah persatuan yang merayakan keragaman, bukan arena untuk diskriminasi.
"Karena sepakbola itu untuk merayakan keberagaman," tegas keduanya.
Insiden ini bukan hanya melukai hati kedua pemain. Namun, perilaku itu juga menjadi bukti rasisme masih menjadi masalah serius di sepakbola Indonesia.
Itulah kisah sedih Yance dan Yakob Sayuri, pemain Malut United yang jadi korban rasisme usai lawan Persib Bandung. Semoga informasi ini berguna untuk pembaca sekalian.
(Wikanto Arungbudoyo)