“Sekarang kami lagi proses cari duit, supaya paham kenapa sampai ada yang belum dibayar. Disamping cari uang untuk kegiatan, kami juga cari uang untuk bayar hutang. misal, PSSI gelar seleksi dari mana uangnya? Lalu FIFA Matchday, emang itu untung? engga. waktu kemarin kita lawan burundi, rugi ga? rugi juga,” ujarnya.
“Prioritasnya yang menyangkut hidup orang. Artinya orang per orang. Misal perangkat pertandingan, wasit (termasuk yang U-20 kemarin mini turnamen), itu jadi prioritas kami. Walaupun ini masih bertahap, tapi Pak Erick sudah arahkan supaya kita mulai membayar utang tapi yang memang menyangkut hidup orang. Tapi untuk vendor-vendor kami terpaksa menunggu dari hasil audit karena kita ga tahu hutangnya sekian, ini bener apa engga, siapa yang tahu,” ungkap Arya.
Soal nominal pasti dari utang tersebut, Arya tidak membeberkan secara spesifik. Namun, staf khusus BUMN itu menyampaikan bahwa utang tersebut hampir mencapai Rp100 miliar.
“Waduh, puluhan miliar, kisarannya tipis-tipis lah hampir 100 miliar, tapi ga nyampe lah, di bawah dikit, ya sekitar segitu lah,” tandas Arya.
(Reinaldy Darius)