PRO dan kontra muncul ketika pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, memanggil tujuh pemain naturalisasi untuk mengarungi FIFA Matchday Juni 2023. Kubu yang kontra menilai, banyaknya pemain naturalisasi di skuad Timnas Indonesia menunjukan pembinaan sepakbola di Tanah Air telah gagal.
Selain itu muncul juga anggapan, buat apa menggunakan pemain naturalisasi? Toh di SEA Games 2023, Timnas Indonesia U-22 keluar menjadi juara tanpa diperkuat satu pun pemain naturalisasi.
(Timnas Indonesia U-22 juara SEA Games 2023 tanpa pemain naturalisasi)
Asumsi di atas memang tak bisa disalahkan, namun pastinya ada jalan tengah yang bisa diambil dalam menyikapi program naturalisasi ini. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, baru-baru ini menanggapi banyaknya pemain naturalisasi di skuad Timnas Indonesia.
Erick Thohir menilai perpaduan pemain lokal dan naturalisasi merupakan kombinasi pas. Perpaduan ini dinilai Erick Thohir merupakan momentum Timnas Indonesia memperbaiki prestasi mereka di kancah internasional.
“Generasi emas di Timnas Indonesia merupakan perpaduan dari para pemain muda dan pemain diaspora yang percaya sepakbola Indonesia akan bangkit. Jadi boleh enggak? (menggunakan pemain naturalisasi). Boleh. Kami kombinasikan kekuatan terbaik ini,” kata Erick Thohir.
Sembari mengandalkan pemain naturalisasi, Erick Thohir juga tak melupakan pembinaan sepakbola usia dini yang merupakan pondasi dari sepakbola Indonesia. Dalam sarasehan sepakbola Indonesia medio Maret 2023, Erick Thohir berencana menggelar kompetisi sepakbola usia dini sejak sembilan tahun. Dalam pandangan Erick Thohir, ini merupakan salah satu cara Indonesia bersaing di level dunia pada 2034.
“Jika kita mau bersaing di kompetisi kelas dunia pada 2034, tidak mungkin menyiapkan kompetisi dari usia 12-14 tahun, harus dari 9 tahun,” kata Erick Thohir.
(Erick Thohir siap bangkitkan sepakbola Indonesia)
Mantan presiden Inter Milan itu berharap, cara di atas merupakan salah satu yang membuat Timnas Indonesia menembus peringkat 50 dunia pada 2045. Erick Thohir menilai Indonesia harus berani jika ingin mencetak sejarah.
“Ini salah satu program yang didiskusikan. Indonesia harus berani jika ingin masuk ke posisi 50 dunia pada 2045,” lanjut Erick Thohir.