Dalam kebingungan dan kekhawatiran itu, Blum mendapatkan suatu kesempatan berkunjung ke masjid. Berawal dari rumah ibadah umat muslim itu, Blum merasa tenang dan mulai tertarik mengenai agama Islam.
Ketika mengenai Islam lebih jauh, Blum menemukan ketenangan. Ia yang mengaku amat emosian pun perlahan dapat mengatur emosinya berkat semakin mengenal Allah SWT.
“Saya pernah berkunjung ke masjid dan hati saya terasa langsung bangkit. Saya merasa ini adalah sesuatu untuk saya dan saya ingin tahu lebih banyak, sambung Blum.
"Islam memberi saya harapan dan kekuatan. Doa menenangkan jiwa saya. Emosi saya masih labil, jadi saya mudah marah. Saya juga banyak kehilangan diri dan hilang arah. Tapi, Allah selalu menuntun saya,” tambahnya.
Jadi, momen Blum ke mesjid menjadi salah satu langkah pertama ia menjadi mualaf. Perlahan ia pun mulai mempelajari Islam, termasuk mengonsumsi makanan halal dan sholat lima waktu.
(Rivan Nasri Rachman)