Sementara sikap Soekarno terhadap Israel sudah jelas. Dia menolak hubungan apa pun dengan Israel. Saat penyelenggaraan Asian Games 1962 di Jakarta, Soekarno kembali menolak keras keikutsertaan Israel, apalagi mengizinkan atlet dari 'negara ilegal' itu menginjakkan kaki di tanah Indonesia.
Soekarno, selama masa jabatannya di Indonesia terlibat dalam setiap deklarasi anti-Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan forum internasional lainnya. Dukungan Soekarno terhadap pembebasan Palestina diungkapkan secara konsisten termasuk dalam salah satu pidatonya pada tahun 1962.
“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada rakyat Palestina, maka selama itu pula bangsa Indonesia melawan penjajahan Israel,” tegas Soekarno kala itu.
Dukungan Indonesia untuk Palestina tidak 'sepihak'. Di sisi lain, kedua negara ini memiliki hubungan yang sangat istimewa. Setahun sebelum kemerdekaan Indonesia, pada 6 September 1944, Mufti Agung Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini secara terbuka mendukung perjuangan rakyat untuk merdeka.
Setelah kemerdekaan, Indonesia yang membutuhkan pengakuan sebagai negara berdaulat mendapat dukungan dari Mesir dan Palestina pada tahun 1947. Kemudian pada tanggal 14 Mei 1948, Indonesia menolak proklamasi negara Israel oleh David Ben-Gurion karena dianggap telah merebut tanah rakyat Palestina.
Israel beberapa kali mencoba menjalin kontak dengan Indonesia. Pada Januari 1950, Menteri Luar Negeri Israel Moshe Sharett mengirimkan pesan kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta mengenai pengakuan penuh kedaulatan Indonesia oleh Israel, namun ia hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih tanpa menawarkan hubungan diplomatik.
Selanjutnya, upaya Israel mengirimkan misi niat baik ke Indonesia ditolak. Segala upaya hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara juga tidak pernah mendapat tanggapan positif dari Soekarno.
Kemudian ketika menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika pada bulan April 1955 di Bandung, Indonesia bertindak menolak keikutsertaan Israel, sebaliknya Soekarno mengundang pejuang Palestina, Yasser Arafat untuk hadir.
(Dimas Khaidar)