TIMNAS Prancis tercatat telah sebanyak dua kali menjadi juara Piala Dunia, yakni pada edisi 1998 dan 2018. Kendati demikian, patut dicatat bahwa kesuksesan tim berjuluk Les Bleus itu sebenarnya tak lepas dari kiprah para imigran Muslim di skuad mereka.
Prancis sebenarnya sempat mengalami keterpurukan di dunia sepakbola. Hal ini terjadi pada medio 1960-an hinga 1970-an. Sebab, mereka gagal lolos ke putaran utama Piala Dunia, tepatnya dalam edisi 1962, 1970, dan 1974.
Tidak hanya itu, di ajang Piala Eropa pun mereka tak bisa menunjukkan tajinya. Tercatat sejak 1964 hingga 1980 Timnas Prancis tak pernah sekalipun bisa lolos ke putaran utama Piala Eropa. Hal inilah yang pada akhirnya membuat Pemerintah dan Federasi Sepakbola Prancis (FFP) berbenah.
Baca juga: Pertama dalam 4 Tahun Terakhir, Lionel Messi Gagal Sabet Sepatu Emas Eropa
FFP membuat reformasi pada akademi sepakbola mereka di 1972. Mereka membangun Institut National du Football sebagai akademi sepakbola pertama di Prancis.
Di akademi tersebut, Prancis membuka kesempatan kepada anak-anak imigran dari bekas negara jajahan mereka di negara muslim seperti Aljazair, Tunisia, Kamerun, Maroko, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga menampung imigran dari wilayah jajahan mereka di Afrika.
Meski tidak terjadi dalam waktu singkat, namun anak-anak imigran tersebut mampu menunjukkan bakatnya di bidang sepakbola. Anggapan miring tentang para imigran yang hanya numpang hidup di Prancis pun mulai bergeser.
Prancis baru bisa memetik buah dari benih yang mereka tanam pada Piala Dunia 1998. Dalam gelaran tersebut, Prancis yang menjadi tuan rumah, juga berhasil keluar sebagai kampiun. Padahal, pada dua edisi Piala Dunia sebelumnya, Les Bleus selalu gagal lolos babak kualifikasi.