GABRIEL Batistuta terkenal sebagai penyerang tajam selama 17 tahun kariernya sebagai pesepakbola profesional. Dalam kurun waktu itu, Batistuta telah mengumpulkan sembilan trofi guna memantapkan namanya sebagai salah satu legenda sepakbola dunia.
Kendati demikian, perjalanan Batistuta setelah pensiun pada 2005 tidaklah seindah bayangan banyak orang. Pria yang kini genap berusia 50 tahun itu melalui banyak masalah termasuk rasa sakit luar biasa yang dirasakan pada kakinya.
Rasa sakit itu adalah akumulasi dari tindakan kurang bijak Batistuta yang kerap memaksakan diri untuk bermain meski menderita cedera. Bahkan, pria berpaspor Argentina itu kerap menggunakan suntikan penghilang rasa sakit agar bisa tampil dalam pertandingan.
Tindakan itu memberikan keuntungan untuk tim yang dibela tetapi bagi Batistuta hal tersebut mendatangkan bencana di masa depan. Rasa sakit yang dirasakan Batistuta mencapai puncaknya pada 2014 karena ia harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan.
Batistuta bahkan pernah buang air kecil di tempat tidur karena tahu kakinya akan terasa amat sakit meski hanya digunakan untuk berjalan sejauh tiga meter ke kamar mandi. Rasa sakit yang luar biasa membuat Batistuta putus asa karena ia telah mencoba segala pengobatan tetapi tidak ada yang berhasil 100%.
Kondisi Batistuta diperparah dengan masalah rumah tangganya dengan sang istri, Irina Fernandez. Keduanya harus berpisah pada 2014 setelah membina rumah tangga selama 24 tahun. Rumah tangga yang berantakan serta rasa sakit di kakinya menambah beban kehidupan Batistuta setelah pensiun.
Setelah itu, Batistuta yang dipenuhi rasa putus asa menemui seorang dokter fisioterapi untuk meminta kakinya diamputasi. Batistuta rela kehilangan senjata utamanya untuk mencari uang pada beberapa tahun lalu agar lepas dari sakit.
Namun, dokter yang ditemui Batistuta tak menyetujui tindakan itu. Batistuta pun terus melanjutkan pengobatannya agar rasa sakit di kakinya hilang. Rasa sakit itu membuat Batistuta sedikit menyesal karena telah memberikan terlalu banyak hal untuk sepakbola daripada seharusnya.
(Ramdani Bur)