CRISTIANO Ronaldo merupakan salah satu pesepakbola terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah. Bersama rival abadinya, Lionel Messi, dalam satu dekade terakhir Ronaldo selalu mendominasi penganugerahan trofi Ballon d’Or. Meski begitu, bukan berarti Ronaldo tak pernah dikritik.
Baik kritik maupun pujian telah silih berganti menghiasi karier Ronaldo sebagai seorang pesepaknola. Hal itulah yang kemudian membuatnya terus berkembang hingga bisa berada di titik seperti sekarang ini. Berikut adalah lima pelajaran yang bisa diambil dari hidup Cristiano Ronaldo.
5. Tak pernah mau kalah dari para haters
Seiring dengan timbulnya kesuksesan yang diraih oleh Cristiano Ronaldo, maka semakin banyak pula orang-orang yang membenci CR7. Banyak yang mengatakan kalau Ronaldo bukanlah pesepakbola dengan bakat alami seperti halnya Lionel Messi ataupun Pele. Akan tetapi, Ronaldo selalu mampu membungkam para pembencinya tersebut dengan prestasi.
Ronaldo menyadari bahwa banyak orang yang tidak suka dengan dirinya. Kendati demikian, Ronaldo tak pernah ingin dikalahkan oleh orang-orang seperti itu. Maka dari itu, Ronaldo selalu berusaha dan berjuang sebaik-baiknya untuk membuktikan diri dan membungkam para pembencinya tersebut.
4. Percaya diri
Cristiano Ronaldo mengungkapkan bahwa dalam pikirannya ia selalu merasa kalau dirinya adalah yang terbaik. Pemikiran tersebut dinilai Ronaldo sebagai sesuatu yang penting guna memotivasi dirinya. Meski pemikiran tersebut kerap dikaitkan dengan egoisme dan arogansi, namun bagi Ronaldo pemikiran itulah yang terbaik.
Tentunya Ronaldo tidak akan bisa menjadi pemain hebat jika tidak memiliki pemikiran seperti itu. Selalu merasa rendah diri dan tidak lebih baik dari pemain lain, jelas bukan menunjukkan mental seorang pemenang. Maka dari itu, sejak dalam diri dan pikiran, Ronaldo selalu menanamkan kalau ia bisa menjadi yang terbaik.
3. Selalu mencari tantangan baru
Di usia 33 tahun, Cristiano Ronaldo masih saja berada di puncak kariernya sebagai seorang pesepakbola. Hal ini tentunya berbeda dengan kebanyakan pesepakbola top lainnya. Nama-nama seperti Andres Iniesta, Fernando Torres, Ronaldinho, hingga David Beckham, ketika memasuki usia 33 tahun mereka pergi dari persepakbolaan Eropa dan menuju Amerika atau China.
Bahkan, tak jarang pula pesepakbola top yang sudah berusia 33 tahun malah menjadi penghangat bangku cadangan lantaran mengalami penurunan performa. Akan tetapi, Ronaldo justru sebaliknya. Baginya, faktor usia seolah tak berlaku. Di usia 33 tahun, Ronaldo tetap mampu menampilkan performa terbaiknya. Ronaldo meninggalkan Real Madrid dan bergabung dengan raksasa Italia, Juventus, untuk menjadi tokoh utama di sana. Pola hidup yang sehat membuat karier Ronaldo berumur panjang.
2. Menjadi rekan dan pemimpin sekaligus
Tak banyak pesepakbola yang mampu mengikuti jejak Cristiano Ronaldo sebagai pemimpin sekaligus rekan bagi teman-temannya di lapangan. Kepemimpinan Ronaldo jelas terlihat kala bersama Timnas Portugal. Akan tetapi, Ronaldo bukanlah tipe pemimpin yang hanya bisa mengatur saja, namun juga merangkul rekan-rekannya untuk tumbuh.
Hal itulah yang kemudian menjadikan Ronaldo sebagai sosok yang disegani oleh rekan-rekannya. Ronaldo juga kerap tampil sebagai penyelamat bagi timnya dengan gol yang diciptakannya. Gelaran Piala Eropa 2016 adalah bukti di mana Ronaldo benar-benar menjadi seorang protagonis.
1. Tak pernah merasa puas
Cristiano Ronaldo merupakan tipe orang yang tak pernah puas dengan apa yang telah dicapainya. Dalam artian, bukan berarti Ronaldo merupakan seorang yang serakah. Akan tetapi, Ronaldo selalu berusaha lebih baik dan lebih baik lagi dari apa yang telah ia lakukan sebelumnya.
Hal ini pun terbayar dengan banyaknya penghargaan dan trofi yang diterima oleh Ronaldo setiap musimnya. Meski Ronaldo telah memenangi torfi atau kejuaraan tertentu, namun ia tak puas diri atau merasa dirinya sudah menjadi yang terhebat. Ronaldo malah berusaha lebih baik lagi agar bisa mendapat hasil lebih maksimal.
(Fetra Hariandja)