CRISTIANO Ronaldo resmi bergabung dengan tim junior Nacional da Madeira pada 1995, atau ketika usianya masih 10 tahun. Saat itu ayah baptis Ronaldo, Fernao Sousa, yang meyakinkan Jose Dinis Aveiro dan Maria Dolores (kedua orangtua Ronaldo) agar membiarkan sang anak meninggalkan Andorinha untuk hengkang ke Nacional.
Bersama Nacional yang notabene jauh lebih kuat ketimbang Andorinha, skill Ronaldo mengalami perkembangan secara pesat. Bahkan ayah Ronaldo meyakini, takkan ada pemain lawan yang mampu menghadang Ronaldo karena sang anak memiliki kecepatan luar biasa.
Pelatih Nacional, Antonio Mendoca, juga tak segan memuji Ronaldo kecil. Mendoca menilai, sepakbola jalanan benar-benar membentuk gaya permainan luwes yang ditampilkan Ronaldo.
“Kemampuannya sangat berkembang: kecepatan, operan, tembakan, eksekusi tembakan. Sepakbola jalanan telah mengajarinya cara untuk menghindari pukulan, melewati lawan dan menghadapi anak yang lebih besar darinya. Sepakbola jalanan juga telah menguatkan karakternya, ia sangat pemberani,” kata Mendoca mengutip dari buku The Obsession For Perfection karangan Luca Caioli.
Bahkan berkat skill individu yang ditampilkan, Nacional kerap menang dengan skor mencolok. Masih seperti saat membela Andorinha, Ronaldo kecil sering menangis tatkala timnya sedang tertinggal atau mengalami kekalahan.
“Mereka maklum dengan kemarahannya sebab biasanya memang ialah yang mencetak banyak gol. Kami bahkan bisa memenangkan beberapa pertandingan dengan skor 9-0 atau 10-0,” lanjut Mendoca.
Alhasil di akhir musim 1995-1996, Ronaldo pun berhasil meraih trofi regional pertamanya. Saat itu, kompetisi rata-rata diikuti pemain yang berusia 10 hingga 12 tahun (usia Ronaldo saat itu 11 tahun).
Aksi Ronaldo itu pun menarik perhatian pemandu bakat FC Porto dan Boavista. Namun, Fernao tidak menyarankan Ronaldo untuk hengkang kedua klub itu. Fernao lantas menghubungi Jose Marques Freitas, asisten kejaksaan tinggi di wilayah Ronaldo tinggal, plus berperan sebagai Ketua Klub Sporting Lisbon di Funchal.
Setelah mendapat info dari Fernao, Freitas berbicara langsung kepada manajemen Sporting Lisbon. Tak lama kemudian, kubu Sporting mengirim utusan untuk berbicara dengan orangtua Ronaldo.
Tak lama kemudian, Ronaldo mengucapkan selamat tinggal kepada teman masa kecil dan keluarganya. Ia meninggalkan Kepulauan Madeira untuk melanjutkan karier di dataran Portugal. Bagaimana kiprah Ronaldo di Sporting?
Bersambung….
(Ramdani Bur)