“Wasit Atkinson dan asistennya melihat kejadian tersebut dengan jelas, tidak ada pilihan lain kecuali untuk mengusir kapten Liverpool yang hanya berada di lapangan selama 33 menit. Atkinson selalu berada di bawa tekanan besar dari para pemain Liverpool dan fans, yang akan selalu terjadi setelah mengusir pahlawan tuan rumah, namun keputusan itu benar,” tutur Poll, melansir Daily Mail, Senin (23/3/2015).
“Bentrokan ini sangat diwarnai suasana emosional karena kerumunan penonton dapat mempengaruhi suasana hati para pemain dan itu jelas dari tekel pertama yang dilakukan Gerrard. Kerumunan Anfield mencintai hal itu dan langsung bersorak setelah ia berhasil melakukannya,” sambungnya.
Poll menambahkan, Gerrard seharusnya dapat bermain lebih sabar, mengingat ia merupakan pemain dengan sederet pengalaman. Provokasi yang dilancarkan Herrera seharusnya tak membuat Gerrard dengan mudah terpancing emosi.
“Steven Gerrard akan tahu betapa bodohnya ia membalas tandangan Ander Herrera dengan menginjak betis pemian United itu di menit pertama babak kedua. Gerrard tentu bertekad untuk meninggalkan kenangan pada bentrokan terakhirnya dengan Manchester United. Dia melakukan itu, tetapi bukan dengan cara seperti yang ia inginkan,” lanjut Poll.
“Hanya 10 menit setelah mengirim Gerrard keluar, akan sangat mudah untuk bereaksi berlebihan terhadap satu usaha Phil Jones menjegal Jordan Henderson sebagai ‘balasan kartu merah’. Namun, tantangan Jones adalah satu upaya yang salah waktu tapi asli untuk merebut bola sehingga pantas dengan kartu kuning yang Atkinson tunjukkan padanya,” tuntasnya.
(Rintani Mundari)