SANTOS – Meski harus tersingkir dari ajang Piala Konfederasi 2013 dengan kebobolan 24 gol dari tiga pertandingan. Namun pelatih tim nasional Tahiti, Eddy Etaeta tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Justru dia tetap mengambil sisi positif dari apa yang dialami tim asuhannya tersebut.
Dalam laga terakhir penyisihan grup B, Tahiti lagi-lagi menjadi lumbung gol bagi sang lawan. Tim nasional Uruguay, sukses menggasak Tahiti dengan skor telak 8-0.
Bahkan di pertandingan sebelumnya –di pertandingan perdana-, mereka harus takluk dari tangan Nigeria dengan skor 6-1. dan yang paling mencengangkan, mereka harus kalah dari sang juara dunia, Spanyol, 10 gol tanpa balas.
Meski begitu, penampilan Tahiti perlu diacungi jempol. Mereka tidak memiliki perasaan minder berhadapan dengan klub raksasa lainya. Permainan terbuka dan serangan yang mereka bangun, menunjukkan bagaimana semangat yang mereka usung.
“Jelas, sebenarnya kami tidak ingin menderita seperti itu –kalah di tiap pertandingan-. Tapi kami memang tidak memiliki cara untuk menghentikan serangan Uruguay. Perbedaan kami dan Uruguay sangat besar. Layaknya tim amatir berhadapan dengan tim raksasa,” ucap Etaeta, dikutip FIFA, Senin (24/6/2013).
“Turnamen ini –Piala Konfederasi- sudah berakhir bagi kami. Tapi kami banyak mengambil pelajaran. Kami akan coba bangkit sedikit demi sedikit,” tegas sang pelatih.
Tahiti patut berbangga, pasalnya mereka berasal dari negara yang tidak terlalu tersohor, tapi mampu bersaing dan melawan tim-tim dari negara besar di kancah sepakbola dunia meski hanya bermaterikan pemain amatir yang terdiri dari berbagai profesi.
Follow twitter resmi kami @bola_okezone
(Achmad Firdaus)