BANDA ACEH – Ditengah keringnya prestasi sepakbola nasional, tim sepak bola Aceh tampil menyelamatkan muka Indonesia. Mereka menjuarai even international olahraga antar Negara Asia Fasifik atau Arafura Games 2011 di Darwin, Australia.
Atas keberhasilan itu, tim Aceh disambut bak pahlawan saat kembali ke kampungnya. Tiba di Banda Aceh, Selasa (17/5/2011) siang, mereka langsung dijamu makan siang dan diguyuri bonus senilai Rp2 juta perpemain oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf di Meuligoe (Pendopo).
Aceh meraih medali emas setelah dalam partai final event olahraga dua tahunan itu berhasil mempermalukan tim sepakbola tuan rumah, Darwin dengan skor 1-0 di Stadion Darwin Football pada Sabtu akhir pekan lalu.
Keberhasilan itu sekaligus mengangkat citra Indonesia yang sempat tercoreng akibat kericuhan pada laga antara Nusa Tenggara Timur (NTT) melawan tim Macau, Cina, sehari sebelumnya.
Dalam laga memperebutkan medali perunggu itu, NTT sempat tertinggal 2-0 namun mereka kemudian memprotes wasit dengan melakukan walk-out, karena mengkartu merahkan kipernya. NTT akhirnya diputuskan kalah dan Macau berhak mendapat perunggu.
Keberhasilan Aceh tak terlepas dari gemilangnya penampilan Nanda dkk sepanjang turnamen. Mereka berhasil mengatasi lawan-lawan mereka dengan hasil membanggakan hingga menembus final.
Selain meraih medali emas, tim Aceh juga mencatat sejarah dengan mencetak rekor kemenangan terbesar sepanjang sejarah Arafura Games. Itu terjadi dalam laga penyisihan saat melawan Borroloola, sebuah kota di bagian Utara Australia dimana tim berjuluk “Ticem Pala Kuneng” berhasil membantai lawannya itu dengan skor telak 19-1.
Tim Aceh yang dibesut pelatih lokal Zulkifli dan Wahidin berangkat ke Arafura Games dengan 18 pemain. Pemain yang dibawa rata-rata berusia 18 tahun. Mereka berasal dari seluruh Aceh yang diseleksi dalam Liga Aceh atau K-LigA, mayoritas pemainnya berasal dari tim asal Kabupaten Pidie yaitu Pidie United yang merupakan juara K-LigA musim lalu.
Selain Aceh, daerah lain yang mewakili Indonesia dalam Arafura Games 2011 adalah Bali, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, dan Papua Barat. Arafura Games kali ini mempertandingkan 20 cabang olahraga dan diikuti oleh sejumlah Negara-negara di Asia Fasifik.
Aceh dipercaya sebagai salah satu daerah mewakili Indonesia di Arafura Games sejak 2007. Kali ini Aceh hanya mengirim satu tim cabang olehraga yakni sepakbola.
Irwandi Yusuf mengatakan, tahun ini adalah titik bangkitnya persepakbolaan Aceh. Indikatornya bukan hanya menjuarai Arafura Games, dua tim sepakbola asal Aceh Persiraja dan PSAP Sigli juga berhasil memimpin Devisi Utama 2010/2011 wilayah Barat dan kini sedang memperbutkan tiket ke Liga Super Indonesia.
Menurutnya Aceh juga memiliki banyak pemain-pemain muda masa depan. Selain mereka yang tampil membanggakan di Arafura Games, Provinsi itu juga tercatat memiliki 30 remaja yang sudah lulus berlatih sepakbola di Paraguay. Bahkan 18 diantara mereka sekarang sudah direkrut sejumlah tim Liga Devisi 1,2,3 dan 4 di Paraguay dan Argentina.
Khusus pemain yang berlatih di Paraguay, Pemerintah Aceh akan menjadikan mereka sebagai tim inti Aceh. Mereka akan kembali ke Aceh semuanya pada November 2011 selanjutnya akan dibentuk satu tim. “Pemain-pemain ini adalah timnasnya Aceh, tidak akan disewakan,” kata Irwandi.
(Dewi)