Ribut Waidi Meninggal Dunia

Minggu, 3 Juni 2012 - 18:00 wib | Sundoyo Hardi - Koran SI

Ribut Waidi. (ist) Ribut Waidi. (ist) SEMARANG – Dunia sepak bola nasional kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kemarin, mantan pemain tim nasional dan legenda PSIS Semarang Ribut Waidi meninggal di rumahnya, Perum Wahyu Asri Utomo Jalan Wahyu Asri Dalam 4 B no 70 Ngaliyan pukul 05.30 WIB.

Ribut Waidi meninggal di usia 50 tahun. Dia meninggalkan istri dan tiga anak. Kepergian almarhum membawa duka yang mendalam bagi keluarganya. Sebab, sebelumnya tidak ada tanda-tanda Ribut Waidi menderita penyakit tertentu. Minggu (3/6) pagi seusai bangun tidur, Ribut Waidi mengeluh sakit dan minta dikeroki.

”Beliau hanya mengeluh tidak enak badan dan minta dikeroki. Namun kondisinya malah memburuk. Saat akan dibawa ke rumah sakit, beliau sudah tidak ada,” kata Triyanto, keponakan Ribut Waidi.

Kemarin siang, jenazah Ribut Waidi dimakamkan di Pemakaman Giri Loyo Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Ratusan pelayat ikut memberikan penghormatan terakhir bagi pemain yang memiliki kontribusi besar terhadap keberhasilan PSIS PSIS merebut gelar juara Perserikatan 1987 tersebut.

Di antara para pelayat, terlihat Mantan Ketua PSIS Ismangoen Notosapoetro dan pelatih Cornelis Soetadi. Selain itu sejumlah rekan pemain Ribut Waidi di PSIS seperti Ahmad Muhariah, Sudaryanto, dan Budi Wahyono ikut hadir mengantarkan Ribut Waidi ke peristirahatan terakhirnya.

”Kami kehilangan sosok pemain besar di negeri ini. Saat dia (Ribut Waidi) di lapangan, semua menjadi mudah. Bisa dikatakan, biarkan saja ketika dia sedang menguasai bola, pasti nanti dia tahu apa yang terbaik bagi timnya,” kata Cornelis yang sempat menjadi asisten pelatih di PSIS di masa Ribut Waidi dkk.

Di masa jayanya, Ribut Waidi tidak hanya menjadi andalan PSIS. Akan tetapi juga menjadi tulang punggung Timnas PSSI. Dia ikut mengantarkan Indonesia merebut medali emas sepak bola pada SEA Games 1987. Bahkan di partai final, Ribut Waidi mencetak satu-satunya gol kemenangan Indonesia saat mengganyang Malaysia.

Nama Ribut Waidi semakin berkibar di kancah sepak bola nasional. Tidak bisa dipungkirinya, dia menajdi bagian  dari generasi emas Mahesa Jenar bersama FX Tjahjono, Saiful Amri, Budiawan Hendratno, dan Budi Wahyono.

Di sisi lain, Ribut Waidi juga merasakan getirnya panggung sepak bola. Dia gagal membawa PSIS lolos ke Babak 6 Besar di Senayan akibat aksi sepakbola gajah yang diperagakan Persebaya dan Persipura di akhir 1980an. Tampil di kandang sendiri, Persebaya kalah 0-12 dari Persipura. Kekalahan tersebut sebagai salah satu strategi Persebaya untuk menyingkirkan PSIS.

Pada 1992, Ribut Waidi memutuskan pensiun sebagai pemain. Akan tetapi, hidupnya tidak bisa lepas dari dunia sepak bola. Menjalani profesi di Pertamina sebagai pengawas di Depo Pengapon, Semarang, Ribut mendirikan sebuah sekolah sepak bola di Semarang. Bahkan, pekan lalu Ribut ikut bersama wartawan Kota Semarang saat menggelar pertandingan persahabatan dengan Pertamina.

Untuk mengenang pengabdiannya dan jasa besarnya terhadap dunia sepak bola tanah air, Pemkot Semarang bahkan mendirikan patung Ribut Waidi sedang menggiring bola di Jalan Karangrejo, jalur utama menuju Stadion Jatidiri Semarang pada 2003 lalu.Akan tetapi, patung tersebut sekarang rusak parah setelah tertimpa baliho reklame yang disapu angin ribut.
 
BIODATA
Nama     : Ribut Waidi
TTL         : Pati, 5 Desember 1962
Istri         : Nonik
Anak       : Widi, Farah, dan Sasha
 
Karir Klub:
PS Sukun Kudus (1976-1980)
Persiku Kudus (1980)
PS Kuda Laut Pertamina Semarang (1981-1984)
PSIS Semarang (1984-1992)
Timnas Indonesia (1986-1990) (min)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »