“Targetnya harus jelas, yakni menjadi juara. Jika target tersebut kembali gagal dicapai dan persoalan taktis yang sama masih muncul, PSSI harus berani mengambil keputusan tegas untuk mengakhiri kerja sama,” tegas Bung Ais.
Jika skenario terburuk kembali terjadi, Bung Ais mendorong federasi untuk tidak alergi memalingkan pandangan ke juru taktik lokal yang jauh lebih memahami psikologis pemain dan kultur kompetisi nasional. Selain itu, figur pelatih asing yang sudah teruji rekam jejaknya di panggung Super League, seperti Bernardo Tavares atau Bojan Hodak, dipandang sebagai alternatif ideal yang tidak membutuhkan waktu adaptasi panjang.
Di sisi lain, Bung Ais mengingatkan bahwa pembenahan terbesar sejatinya harus datang dari kesadaran taktis Herdman sendiri untuk terus mengasah fleksibilitas strategi dan keberanian membaca dinamika pertandingan. Pengalaman minim Herdman sebagai mantan pemain profesional dinilai bukan rintangan utama selama ia mampu belajar dari evaluasi menyeluruh, sebagaimana yang dibuktikan oleh pelatih kelas dunia seperti Jose Mourinho.
Sebagai penutup analisisnya, Bung Ais meminta federasi untuk bersikap objektif dengan mengukur tolok ukur keberhasilan secara utuh, mulai dari kualitas permainan hingga perkembangan mentalitas tim di lapangan.
“Evaluasi harus melihat proses, performa, kualitas permainan, dan hasil secara bersamaan. Pertanyaan utamanya adalah apakah John Herdman mampu membuktikan bahwa kegagalan di Piala AFF 2026 adalah kesalahan yang bisa diperbaiki, atau justru menunjukkan ia memang bukan figur yang tepat untuk Timnas Indonesia,” pungkas Bung Ais.
(Rivan Nasri Rachman)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.