Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lini Depan dan Penyakit Bola Atas Jadi PR Utama Timnas Indonesia U-17 Jelang Piala Asia U-17 2026

Rivan Nasri Rachman , Jurnalis-Kamis, 23 April 2026 |14:44 WIB
Lini Depan dan Penyakit Bola Atas Jadi PR Utama Timnas Indonesia U-17 Jelang Piala Asia U-17 2026
Suasana laga Timnas Indonesia U-17 vs Vietnam U-17 di Piala AFF U-17 2026. (Foto: Instagram/aff_aseanfootball)
A
A
A

PERSIAPAN Timnas Indonesia U-17 harus benar-benar serius menghadapi putaran final Piala Asia U-17 2026 yang akan digelar mulai 5 Mei mendatang. Kegagalan menyakitkan di level Piala AFF U-17 2026, ditambah rapor merah selama laga uji coba, membuat publik meragukan peluang skuad Garuda Asia untuk bersaing di Grup Neraka bersama Jepang, China, dan Qatar.

Tren negatif ini bukan tanpa alasan. Sebelum tersingkir prematur di level Asia Tenggara, Timnas Indonesia U-17 tercatat menelan lima kekalahan beruntun di laga persahabatan, termasuk kekalahan telak dengan skor identik 0-7 saat bersua China dan Korea Selatan.

1. Kritik Pedas Pengamat

Rentetan hasil buruk ini memicu kritik tajam dari berbagai pengamat sepak bola nasional. Salah satu kritik keras datang dari pengamat sepak bola nasional, Ronny Pangemanan atau yang akrab disapa Bung Ropan.

Dalam suatu podcast, Bung Ropan menyoroti bagaimana permainan anak asuh Kurniawan Dwi Yulianto yang kerap mendominasi penguasaan bola namun sangat lemah dalam penyelesaian akhir serta disiplin pertahanan.

"Hal terpenting tetaplah hasil. Siapa yang menang di akhir pertandingan, itulah yang penting. Karena jika kita menguasai bola tetapi membiarkan lawan melepaskan terlalu banyak tembakan, itu sia-sia. Hal itu terlihat jelas dalam pertandingan melawan Malaysia. Mereka bermain efektif, sangat cerdas, dan sangat disiplin," ujar Ropan, dikutip dari Soha, Kamis (23/4/2026).

Timnas Indonesia U-17 vs Vietnam U-17. (Foto: PSSI)
Timnas Indonesia U-17 vs Vietnam U-17. (Foto: PSSI)

Kelemahan ini terlihat nyata saat Timnas Indonesia U-17 dipaksa menyerah oleh Malaysia. Meski agresif di babak kedua, penyelesaian akhir yang buruk membuat peluang demi peluang terbuang percuma.

Bung Ropan menekankan kemampuan penyelesaian akhir jelas menjadi rapor merah yang paling mencolok dari tim asuhan Kurniawan Dwi Yulianto tersebut.

 

2. Instruksi Bola Panjang yang Tidak Efektif

Selain masalah ketajaman, skema permainan yang diterapkan tim pelatih juga tak luput dari sorotan. Bung Ropan mengkritik penggunaan strategi bola-bola panjang yang dianggap tidak sesuai dengan karakteristik pemain Garuda Asia.

Taktik ini dinilai sangat mudah dibaca dan dipatahkan oleh lawan-lawan Indonesia.

"Satu hal yang saya perhatikan: bermain bola panjang terasa tidak benar. Itu tidak cocok. Saya tidak tahu apakah ini instruksi langsung dari Kurniawan atau bukan,” sambung Bung Ropan.

Timnas Indonesia U-17 vs Timnas Malaysia U-17 (Foto: LOC Media ASEAN U17 Championship 2026)
Timnas Indonesia U-17 vs Timnas Malaysia U-17 (Foto: LOC Media ASEAN U17 Championship 2026)

“Para pemain muda terus melakukannya, dan pemain Malaysia dengan mudah membaca permainan ini. Tidak ada skema serangan yang cantik, dan peran pengatur serangan di lini tengah pun tampak hilang," imbuhnya.

Dengan waktu tinggal menghitung hari lagi sebelum kick-off Piala Asia U-17 2026, tim pelatih dihadapkan pada tugas berat untuk menambal lubang di berbagai lini. Jika masalah akurasi umpan di area sepertiga akhir dan ketergantungan pada bola panjang tidak segera dibenahi, ambisi Timnas Indonesia U-17 untuk lolos dari fase grup sekaligus mengamankan tiket menuju Piala Dunia U-17 2026 terancam sirna.

(Rivan Nasri Rachman)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement