PSSI menyatakan dukungan penuh kepada Menpora RI Erick Thohir dalam rangka memberantas predator seksual di dunia olahraga. Federasi menekankan tidak ada toleransi buat pelaku.
Kasus pelecehan kekerasan seksual yang menimpa atlet dari cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing memicu perhatian serius dari berbagai federasi olahraga di Indonesia. Salah satunya PSSI.

Sekretaris Jenderal PSSI (Sekjen PSSI), Yunus Nusi, mengecam keras tindakan terduga pelaku. Ia menyebut, olahraga seharusnya menjadi ruang yang menjunjung sportivitas, rasa saling menghormati, serta integritas.
“PSSI sangat menyayangkan kekerasan seksual yang menimpa atlet. Olahraga dibangun di atas nilai sportivitas, rasa saling menghormati, dan integritas. Kekerasan seksual jelas merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai tersebut dan tidak boleh mendapat tempat dalam ekosistem olahraga,” kata Yunus dalam keterangan resmi, dikutip Senin (16/3/2026).
“Kejadian ini bukan hanya menyedihkan bagi atlet sebagai korban ataupun keluarganya saja, tapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia karena para atlet tersebut sudah memberikan prestasi baik untuk daerah mereka ataupun untuk bangsa,” imbuhnya.
Yunus berharap dua kasus yang mencuat tersebut dapat ditangani secara serius, profesional, dan transparan oleh aparat kepolisian. Menurutnya, proses hukum yang jelas sangat penting untuk memastikan para korban memperoleh keadilan.
Pria berusia 56 tahun itu juga mengapresiasi langkah cepat Kemenpora RI yang menunjukkan komitmen dalam mengawal kasus tersebut. Selain itu, Yunus menilai Menpora Erick aktif membuka ruang pengaduan bagi para atlet agar kasus serupa dapat segera ditindaklanjuti.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Menpora karena terus mengawal kasus ini, dan melakukan langkah cepat untuk membuka pengaduan atlet. Dengan perhatian yang ditunjukan, maka kami harap setiap cabor juga fokus menjaga keamanan para atletnya, sehingga kasus seperti ini tak terulang,” tegasnya.

Hal senada diutarakan Anggota Komite Eksekutif PSSI (Exco PSSI) Vivin Cahyani Sungkono. Wanita berusia 52 tahun itu menilai dunia olahraga harus menjadi ruang aman bagi para atlet untuk berlatih, berkembang, dan meraih prestasi tanpa rasa takut.
“Atlet adalah kebanggaan bangsa yang harus kita jaga dan lindungi. Mereka berhak berlatih, bertanding, dan berkembang dalam lingkungan yang aman terlindungi bukan malah menjadi ruang yang menimbulkan trauma. Untuk para predator di dunia olahraga, tidak ada kata toleransi,” kata Vivin.
“Kami menuntut hukuman yang setimpal dan seberat-beratnya sesuai undang-undang yang berlaku. Hukuman ini sebagai pesan tegas dunia olahraga Indonesia adalah wilayah terlarang bagi pelaku kekerasan. Kita harus memastikan para pelaku ini mendapatkan efek jera yang nyata agar tidak ada lagi masa depan atlet yang dikorbankan,” tegasnya.
Vivin menambahkan pencegahan kasus serupa di lingkungan sepakbola membutuhkan langkah konkret dari seluruh pihak. Ia menilai sistem perlindungan atlet harus diperkuat melalui advokasi terhadap korban serta penegakan regulasi yang tegas.
Selain itu, federasi perlu memperkuat kode etik yang melarang segala bentuk kekerasan di lingkungan olahraga. Edukasi dan sosialisasi juga harus terus dilakukan kepada atlet, pelatih, dan ofisial mengenai batasan perilaku profesional.
“Kita ingin para atlet fokus pada prestasi tanpa dibayangi rasa takut atau tekanan. Karena itu, semua pihak harus bekerja bersama memastikan sistem perlindungan yang kuat benar-benar berjalan,” papar Vivin.
“Melindungi atlet bukan hanya tanggung jawab federasi, tetapi tanggung jawab kita bersama. Kita harus memastikan dunia sepakbola Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, profesionalitas, dan rasa hormat,” tandasnya.
(Wikanto Arungbudoyo)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.