Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Bambang Pamungkas Gagal Main di Tim Senior Roda JC karena Kalah Saing dari 3 Pemain Asing

Rivan Nasri Rachman , Jurnalis-Senin, 23 Februari 2026 |17:13 WIB
Kisah Bambang Pamungkas Gagal Main di Tim Senior Roda JC karena Kalah Saing dari 3 Pemain Asing
Legenda Persija Jakarta, Bambang Pamungkas. (Foto: Instagram/bepe20)
A
A
A

NAMA Bambang Pamungkas tidak hanya harum di kancah sepak bola nasional, tetapi juga menyimpan jejak historis di Benua Biru. Legenda Persija Jakarta yang akrab disapa Bepe ini kembali mengenang masa-masa saat dirinya mengadu nasib di Eropa pada akhir era 90-an, sebuah perjalanan yang membentuk mentalnya sebagai salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Dalam sebuah sesi bincang-bincang di kanal YouTube, Bepe menceritakan pengalamannya menjalani trial di beberapa klub besar Jerman dan Belanda antara tahun 1998 hingga 1999. Pria asal Salatiga ini tercatat pernah mendapatkan undangan untuk unjuk gigi di FC Koln, Borussia Monchengladbach, hingga Roda JC Kerkrade.

1. Terbentur Aturan Kuota Pemain Non-Uni Eropa

Meski kemampuannya diakui, langkah Bepe untuk menembus skuad utama Roda JC harus terganjal tembok regulasi. Saat itu, aturan pemain asing di Eropa sangat ketat, di mana satu klub hanya diperbolehkan mendaftarkan tiga pemain dari luar Uni Eropa (Asia, Amerika Latin, dan Afrika). Ironisnya, tiga slot tersebut sudah diisi oleh pemain-pemain kelas dunia yang berstatus jebolan Piala Dunia.

“Di 1998-1999 itu gua pernah trial di Eropa, di klub FC Koln Jerman, kemudian Roda JC Kerkrade Belanda, kemudian di Borussia Monchengladbach. Itu diinvite (diundang),” kata Bambang Pamungkas di podcast youtube Sport77, dikutip Senin (23/2/2026).

Jurgen Klinsmann dan Bambang Pamungkas, Twitter @bepe20
Jurgen Klinsmann dan Bambang Pamungkas, Twitter @bepe20

“Roda JC itu ada tiga (pemain asing), kiper Zeljko Kalac (Australia), kemudian ada Bernard Tchoutang (Kamerun), Garba Lawal (Nigeria). Ini pemain Piala Dunia semua nih. Nah itu main di Roda JC, sehingga gua enggak bisa main di sana, register pun enggak bisa,” lanjut Bambang.

Alhasil, demi jam terbang, Bepe akhirnya ditempatkan di tim satelit bernama EHC Norad.

“Makanya karena gua main di katakanlah second team, jadi di taruh di tim kayak tim satelitnya gitu lah, di EHC itu,” imbuhnya.

 

2. Duel Bersejarah Melawan Skuad Olimpiade Nigeria

Selama masa pencarian pengalaman tersebut, Bepe sempat melakoni laga uji coba yang berkesan melawan tim nasional Nigeria U-23 yang tengah bersiap menuju Olimpiade Sydney 2000. Melalui akun media sosialnya, Bepe mengunggah foto lawas kiriman rekannya, Mike Preis, yang memperlihatkan dirinya berbaris bersama skuad Roda JC B.

Dalam foto tersebut, Bepe yang kala itu masih berusia 20 tahun tampak percaya diri bersaing di level internasional. Momen ini terjadi tak lama setelah ia menyabet gelar pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia musim 1999-2000.

Bambang Pamungkas @theafcdotcom
Bambang Pamungkas @theafcdotcom

Pengalaman di Belanda ini pun menjadi modal berharga baginya saat kembali ke tanah air dan membawa Persija Jakarta juara pada tahun 2001 sekaligus menyabet gelar Pemain Terbaik.

Perjalanan karier Bepe berakhir manis dengan status sebagai manajer Persija Jakarta setelah resmi gantung sepatu pada 2019 lalu. Kisahnya di Belanda tetap menjadi bukti bahwa talenta Indonesia sejak dulu sudah mampu bersaing dan menarik minat klub-klub mapan di Eropa.

(Rivan Nasri Rachman)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement