Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Doan Van Hau dan Strategi Curang Furbizia yang Lumrah Digunakan di Eropa

Ilham Sigit Pratama , Jurnalis-Sabtu, 07 Januari 2023 |05:12 WIB
Doan Van Hau dan Strategi Curang Furbizia yang Lumrah Digunakan di Eropa
Pemain Timnas Vietnam, Doan Van Hau jadi sorotan selama digelarnya Piala AFF 2022 (Foto: AFF)
A
A
A

PEMAIN Timnas Vietnam, Doan Van Hau menjadi sorotan dengan gaya bermainnya selama gelaran Piala AFF 2022. Strategi curang yang dilakukan Van Hau dinamai Furbizia yang sejatinya sudah lumrah terjadi di sepakbola Eropa.

Seperti diketahui, Timnas Indonesia gagal meraih kemenangan usai ditahan imbang Vietnam 0-0 di leg pertama semifinal Piala AFF 2022. Pada laga yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada Jumat (6/1/2023) sore WIB itu, The Golden Stars -julukan Vietnam- dapat dikatakan bermain kasar.

Timnas Indonesia vs Vietnam

ESPN mencatat bahwa Vietnam melakukan 11 kali pelanggaran, dua diantaranya berbuah kartu kuning. Bek kiri Vietnam, Doan Van Hau menjadi pemain yang paling disorot.

Doan Van Hau melancarkan tekel keras kepada Dendy Sulistyawan di menit 53, disusul kontak keras dengan Ricky Kambuaya di kotak penalti timnya sendiri pada menit injury time 90+2.

Bukan kali itu saja, di babak grup, Van Hau memprovokasi pemain Timnas Malaysia Azam Azmi. Pemain berusia 23 tahun itu melakukan kontak berbahya yang membuat Azmi terpental keluar lapangan.

Azmi melakukan kontak balasan ketika keduanya bertubrukan di luar kotak penalti. Namun malah justru Azmi yang diganjar kartu merah, bak jatuh tertimpa tangga, Malaysia juga dihukum penalti.

Namun praktik kotor yang dilakukan Van Hau sebetulnya sudah lumrah. Praktik itu populer di sepak bola Italia dengan nama Furbizia, akan tetapi lebih dulu dilakukan oleh legenda Timnas Argentina, mendiang Diego Maradona pada Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Ya, siapa yang tidak tahu gol tangan tuhan Maradona yang ikonik ke gawang Inggris di perempat final Piala Dunia edisi tersebut? Praktik tersebut tentu licik karena Maradona menggunakan tangannya untuk mencetak gol.

Namun gol itu justru disahkan, tentunya karena pandangan terbatas wasit dan teknologi yang kala itu belum canggih seperti sekarang. Praktik kotor itu dipopulerkan oleh Timnas Italia di beberapa turnamen.

Yang paling ikonik adalah ketika Timnas Italia menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman. Praktik itu dilakukan Fabio Grosso di babak 16 besar menghadapi Australia.

Marco Materazzi

Memasuki masa injury time, Grosso melakukan penetrasi ke kotak penalti Australia. Grosso dihadang oleh bek Australia, Lucas Neill.

Grosso menggocek bola sembari sengaja menyangkutkan kakinya di bahu pemain yang kala itu membela Blackburn Rovers tersebut. Grosso terjatuh dan penalti pun diberikan.

Hal serupa dilakukan Timnas Italia di partai final. Ya, Marco Materazzi sengaja memprovokasi bintang Timnas Prancis, Zinedine Zidane.

Zidane tersulut amarah dan menandukkan kepalanya ke arah dada Materazzi hingga terjatuh. Zidane kena kartu merah dan Italia pun juara Piala Dunia 2006 usai memenangi babak adu penalti.

Furbizia kembali dilakukan Timnas Italia 14 tahun kemudian, tepatnya di perempat final Piala Eropa 2020 kontra Belgia. Ketika unggul 2-1, pemain Timnas Italia berlama-lama berbaring di tanah usai kontak fisik untuk mengulur waktu dan melakukan pelanggaran tak perlu ke pemain lawan.

Giorgio Chiellini dan kolega juga menghalang-halangi pemain Belgia terburu-buru mengambil bola mati demi menyamakan kedudukan. Italia pun menjadi sorotan, banyak yang menyebut bahwa kegagalan mereka lolos ke Piala Dunia 2022 merupakan akibat dari dosa-dosa mereka di masa lalu.

Tak hanya di level internasional, praktik licik juga sering melekat pada diri bek veteran, Sergio Ramos. Praktik paling ikonik Ramos terjadi pada final Liga Champions 2017-2018 antara Real Madrid versus Liverpool.

Di menit 29, Ramos dengan keras menghantam Mohamed Salah hingga tergeletak. Salah ditarik keluar karena cedera, dan Madrid pun juara Liga Champions musim itu usai menang dengan skor 3-1.

Oleh sebab itu, praktik yang dilakukan Doan Van Hau di Piala AFF 2022 sebetulnya sudah lumrah dilakukan oleh seniman-seniman lapangan hijau di Eropa. Justru praktik kontroversial tersebut yang menjadi bumbu penyedap dalam sepak bola.

(Dimas Khaidar)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement