Toni Kroos: FIFA dan UEFA Perlakukan Pesepakbola Layaknya Boneka

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 11 November 2020 22:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 11 51 2308171 toni-kroos-fifa-dan-uefa-perlakukan-pesepakbola-layaknya-boneka-IEG4SC74zu.JPG Toni Kroos kritik UEFA dan FIFA (Foto: Reuters/Wolfgang Rattay)

MADRID – Wacana Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) dan Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) untuk menggelar sejumlah turnamen baru mendapat reaksi keras dari Toni Kroos. Gelandang klub Real Madrid itu menilai kedua organisasi tersebut memperlakukan pesepakbola layaknya boneka.

Sebuah turnamen bertajuk Liga Super Eropa tengah digodok oleh UEFA. Sementara itu, FIFA sudah memutuskan untuk menambah peserta Piala Dunia mulai edisi 2026 dari 32 menjadi 46 negara. Perubahan format itu diyakini bakal menambah keseruan turnamen empat tahunan tersebut.

Turnamen baru yang digagas UEFA berpotensi membuat jadwal tanding di level klub semakin padat. Belum lagi, saat ini para pesepakbola harus bergelut dengan jadwal padat musim 2020-2021 sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Baca juga: Asosiasi Pesepakbola Italia Minta Jadwal Pertandingan Internasional Dirombak

UEFA anggap Liga Champions belum cukup (Foto: UEFA)

Ide untuk menggelar turnamen baru itu dikecam keras oleh Toni Kroos. Pesepakbola yang akan ikut membela Tim Nasional (Timnas) Jerman di UEFA Nations League itu menuding kedua lembaga itu hanya ingin menghisap uang sebanyak-banyaknya.

“Dengan pembentukan turnamen-turnamen baru, kami hanya seperti boneka saja bagi FIFA dan UEFA. Kompetisi-kompetisi ini dibentuk untuk menghisap tenaga kami pesepakbola dan juga meraup sebanyak mungkin uang,” tuding Toni Kroos, melansir dari Goal, Rabu (11/11/2020).

“Ketika hal-hal tertentu sudah berjalan dengan baik, sudah sepantasnya dibiarkan berjalan seperti apa adanya saja,” imbuh pesepakbola berusia 30 tahun tersebut.

Saat ini saja, pesepakbola profesional seperti Toni Kroos bisa melahap lebih dari 50 pertandingan dalam semusim di level klub dan tim nasional. Dengan tuntutan yang semakin tinggi untuk berprestasi dari pemilik klub atau ketua federasi sepakbola lokal, maka pesepakbola lah yang paling merasakan tekanan mental.

(mrh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini