MARCO van Basten dibesarkan dari keluarga yang juga menggeluti olahraga sepakbola. Ayahnya merupakan seorang pelatih sepakbola pada sebuah tim amatir di lingkungannya. Sang ayah memiliki ambisi besar untuk membentuk karakter Van Basten sejak masih kecil.
Van Basten kecil bahkan mendpat didikan cukup keras dari ayahnya. Ia jarang mendapat pujian meski bermain cukup apik di sesi latihan atau pada sebuah pertandingan. Hal itu yang menjadikan Van Basten tumbuh sebagai pemain yang dikenal dengan dingin di lapangan.

(Marco van Basten remaja saat membela Ajax Amsterdam)
Ia bahkan dikenal bukan tipe pemain yang menganggap kalau sesi foto bersama atau permintaan tanda tangan dari para penggemar sebagai hal yang penting. Meski terkesan angkuh oleh sebagian penggemar, sebagian lain justru mengagumi sikap idolanya tersebut. Van Basten sepertinya sadar betul kalau tugas utamanya adalah mengupayakan kemenangan buat kesebelasannya, bukan hanya beramah-tamah dan tebar pesona kepada para penggemarnya.
Seiring berjalannya waktu, sejarah pun membuktikan kalau dirinya menjadi salah satu sosok yang berpengaruh dalam sejarah sepakbola Belanda. Segudang prestasi baik tim maupun individu sudah diraihnya selama berkarier di lapangan hijau. Memulai karier profesional bersama Tim Ajax Amsterdam, Van Basten sukses menyumbangkan gelar juara Liga Belanda sebanyak tiga kali yakni pada 1981-1982, 1982-1983, 1984-1985.
Pemain kelahiran Utrecht, 31 Oktober 1964 itu semakin dikenal setelah diminati tim sekelas AC Milan. Penampilan impresifnya membuatnya langsung mendapat tempat di lini depan Rossoneri kala itu. Berkolaborasi dengan dua penggawa asal Belanda lain yakni Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard membuat Milan menjadi salah satu tim dengan materi pemain paling ditakuti kala itu.
Perjalanan Van Basten bersama skuad AC Milan juga tak kalah mentereng. Di musim perdananya berseragam Milan, pria dengan tinggi 188cm itu langsung mempersembahkan gelar juara Liga Italia. Pencapaian tersebut terbilang cukup spesial lantaran Milan belum merasakan gelar juara selama delapan musim sebelumnya.

Sederet gelar prestisius seperti tiga trofi Liga Italia, dua gelar Liga Champions dan Piala Interkontinental (sekarang Piala Dunia antarklub) berhasil dipersembahkannya untuk AC Milan. Van Basten juga mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak Liga Italia sekaligus menjadi salah satu penyerang terbaik di dunia pada zamannya.
Berbagai pencapaiannya bersama AC Milan membawa Van Basten meraih berbagai gelar individu. Sekadar diketahui, Van Basten merupakan pemain yang merajai penghargaan Ballon d'Or sebelum dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saat ini. Van Basten tercatat pernah meraih trofi tersebut sebanyak tiga kali yakni pada 1988, 1989 dan 1992.
(Ramdani Bur)