nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Batistuta, Penyerang Tajam yang Tak Kenal Usia

Andika Pratama, Jurnalis · Sabtu 06 Juli 2019 09:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 05 51 2075094 batistuta-penyerang-tajam-yang-tak-kenal-usia-XctTGdSByQ.jpg Batistuta saat membela Fiorentina. (Foto: Daily Mail)

GABRIEL Batistuta adalah salah satu penyerang tertajam yang namanya tercatat dalam buku sejarah sepakbola dunia dengan tinta emas. Ketajaman di depan gawang membawa Batistuta meraih kesuksesan sebagai pemain.

Namun, semua itu tak akan terjadi jika Batistuta kecil tak menyaksikan keberhasilan Tim Nasional (Timnas) Argentina menjadi juara Piala Dunia untuk pertama kali pada 1978. Gelar juara itu terasa lebih spesial karena Argentina bertindak sebagai tuan rumah saat itu.

Momen itu membuat Batistuta yang berusia sembilan tahun mulai melirik sepakbola setelah sebelumnya lebih tertarik dengan basket. Batistuta kecil kemudian menyalurkan niatnya untuk bermain sepakbola dengan bergabung ke klub lokal di lingkungan rumahnya, Platense fc.

Infografis Gabriel Batistuta

Batistuta kecil mulai mengembangkan kemampuannya semasa bermain dan berlatih dengan Platense. Bakat sepakbola Batistuta akhirnya mulai tercium klub besar Argentina saat Platense berjumpa Newell’s Old Boy dalam sebuah turnamen di Buenos Aires.

Pada waktu itu, Batistuta turut menyumbangkan dua gol dalam kemenangan Platense atas Newell’s. Pelatih Newell’s kala itu, Marcelo Bielsa, tertarik dengan Batistuta sehingga transfer pun terjadi pada 1988-1989.

Namun, musim perdana Batistuta di Newell’s tidak berjalan begitu baik karena ia hanya bermain dalam 16 laga dengan sumbangan empat gol sehingga harus pindah pada musim berikutnya. Klub selanjutnya yang ia bela adalah River Plate, tetapi ketajaman Batistuta juga belum menunjukkan perkembangan berarti karena ia hanya mampu membuat tiga gol dari 19 laga. Meski begitu, Batistuta mampu memberikan trofi Liga Argentina untuk River Plate.

Batistuta kemudian hijrah semusim kemudian ke Boca Juniors dan itu jadi awal mula namanya terkenal. Pasalnya, penampilan Batistuta meningkat drastis dengan torehan 13 gol untuk Boca dalam 30 laga. Ketajaman Batistuta bersama Boca membuat Fiorentina merekrutnya pada musim panas 1991.

Bergabung dengan Fiorentina membuat nama Batistuta mulai dikenal di Eropa. Ketajaman Batistuta membawa Fiorentina meraih dua trofi yakni Coppa Italia (1995-1996) dan Piala Super Italia (1996) dalam sembilan musim pengabdiannya.

Gabriel Batistuta saat membela Fiorentina

Kendati demikian, Batistuta berhak menerima gelar legenda Fiorentina bukan hanya karena dua trofi yang diraihnya melainkan juga kesetiaan. Batistuta bisa saja meninggalkan Fiorentina saat terdegradasi ke Serie B pada musim 1992-1993, tetapi ia tak melakukannya.

Batistuta lebih memilih untuk bertahan di Fiorentina dan membawa mereka kembali ke Liga Italia semusim setelahnya. Kesetiaan Batistuta dibayar fans Fiorentina dengan membuatkannya patung di depan Stadion Artemio Franchi.

Setelah itu, karier Batistuta terus menanjak sehingga beberapa tim besar Liga Italia pun ingin memiliki jasanya. Setiap ada pertemuan pasti ada perspisahan dan hal tidak mengenakkan itu terjadi pada musim panas 2000 saat Batistuta memutuskan pindah ke AS Roma dengan mahar 36,15 juta euro atau sekira Rp575 miliar. Harga transfer Batistuta waktu itu adalah yang termahal untuk pemain berusia di atas 30 tahun. Batistuta resmi berseragam Roma pada usia 31 tahun.

Gabriel Batistuta saat membela AS Roma

Transfer itu tentu membuat banyak fans Fiorentina kecewa, tetapi itu adalah keputusan tepat untuk Batistuta karena ia mampu meraih trofi Liga Italia bersama Roma pada musim perdananya. Trofi Liga Italia adalah sesuatu yang tak pernah Batistuta raih dengan seragam Fiorentina. Gelar juara Liga Italia itu terasa lebih spesial karena Batistuta turut menyumbangkan 20 gol untuk I Lupi –julukan Roma.

Semusim berikutnya, Batistuta memberikan trofi Coppa Italia untuk Roma. Kendati demikian, performa Batistuta yang mulai menurun membuat Roma meminjamkannya ke Inter Milan pada musim dingin 2003. Pada akhir musim 2002-2003, Batistuta kembali ke Roma tetapi I Lupi menjualnya ke klub Qatar, Al-Arabi. Batistuta menghabiskan dua musim bersama Al-Arabi sebelum memutuskan pesiun pada akhir musim 2004-2005 saat berusia 36 tahun.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini