Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengorbanan Keluarga untuk Jadikan Maradona Bintang Sepakbola Dunia

Hendry Kurniawan , Jurnalis-Sabtu, 01 Juni 2019 |09:03 WIB
Pengorbanan Keluarga untuk Jadikan Maradona Bintang Sepakbola Dunia
Legenda sepakbola Argentina Diego Armando Maradona (Foto: John Sibley/Reuters)
A
A
A

DIEGO Armando Maradona lahir di keluarga yang sangat miskin di Argentina. Ayah Maradona, Don Diego, memiliki delapan anak dan seorang istri yang harus dinafkahi. Itulah mengapa, orang tua Maradona melakukan pengorbanan yang sangat besar untuk menjadikan putranya tersebut sebagai seorang pesepakbola profesional.

Selama bertahun-tahun Don Diego mencari nafkah dengan mengangkut penumpang menggunakan kapal yang dikendarai di perairan Argentina. Selain itu, ia juga bekerja seorang tukang batu dan pekerja pabrik. Pada awal karier Maradona sebagai seorang pesepakbola, sang ayah melakukan pengorbanan keuangan yang besar.

Diego Armando Maradona

Meski sang ayah sibuk bekerja berjam-jam untuk mendukung mimpi Maradona, namun ia selalu menyempatkan diri hadir menonton pertandingan yang dimainkan putranya tersebut. Diakui olehnya, kalau ia adalah orang yang paling ingin melihat Maradona meraih kemenangan.

Don Diego bahkan memiliki mimpi agar suatu saat nanti Maradona bisa melampaui prestasi yang diraih oleh legenda sepakbola Brasil, Pele. Pasalnya, sejak awal ia sudah melihat bakat sepakbola yang ada di dalam diri Maradona dan ia percaya kalau putranya akan menjadi pemain besar.

“Orang yang paling ingin dia (Maradona) menang adalah saya. Saya menyemir sepatunya dan saya pikir dia bisa menyalip Pele atau mungkin bahkan lebih baik. Seiring berjalannya waktu, Pele meninggalkan kepala saya,” ujar Don Diego pada suatu kesempatan.

Infografis Maradona

Tidak hanya sang ayah, ibu dari Maradona, Dalma Salvadora Franco, juga melakukan pengorbanan yang luar biasa untuk putranya tersebut. Sadar bahwa keluarganya sangat kekurangan secara finansial, Dalma rela menahan lapar agar anak-anaknya bisa makan.

Sang ibu kerap berpura-pura sakit perut untuk berhenti makan. Hal itu dimaksudkan agar Maradona dan saudara-saudaranya bisa makan tanpa harus merasa tidak enak hati kepada sang ibu. Maradona baru menyadari kebohongan ibunya tersebut saat usianya menginjak 13 tahun.

“Pada usia 13 tahun saya menyadari bahwa ibu saya tidak pernah menderita sakit perut. Dia tidak pernah sakit perut. Dia hanya ingin kami makan. Setiap kali makanannya keluar, dia akan mengatakan, ‘Perut saya sakit.’ Itu adalah bohong. Pasalnya, tidak ada cukup makanan untuk kami semua. Itulah sebabnya saya sangat mencintai wanita tua saya itu,” beber Maradona.

(Fetra Hariandja)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement