nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kerap Dipecat pada Musim Ketiga, Ini Dalih Mourinho

Andika Pratama, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 18:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 16 51 2056589 kerap-dipecat-pada-musim-ketiga-ini-dalih-mourinho-aarYLOGykG.jpg Jose Mourinho (Foto: Reuters)

LONDON Jose Mourinho merupakan salah satu pelatih dengan koleksi trofi terbanyak di dunia. Kendati demikian, Mourinho memiliki musuh bernama siklus tiga musimnya ketika menangani sebuah tim.

Setelah meraih kesuksesan bersama tim yang dilatih, Mourinho sering dipecat pada musim ketiganya. Hal itu dialami juru taktik berpaspor Portugal tersebut saat membesut Real Madrid, Chelsea dan Manchester United.

Mourinho pun punya alasan sendiri kenapa dirinya kerap menerima pemecatan pada musim ketiganya. Dari sudut pandang Mourinho, ia merasa seperti diperas di setiap musim dan puncaknya terjadi pada musim kedua.

Florintino Perez dan Jose Mourinho (Foto: Reuters)

Mourinho memang memiliki statistik yang amat mengilap pada musim keduanya menangani sebuah tim karena banyak trofi yang diraih. Akan tetapi, musim berikutnya semua berjalan tak sesuai harapan.

BACA JUGA: Koleksi Trofinya Disalip Guardiola, Mourinho Tak Mau Kalah

Mourinho akan kesulitan pada musim ketiga dan penurunan performa itu berujung pada pemecatan juru taktik berpaspor Portugal itu. Penurunan performa itu bagi Mourinho disebabkan oleh banyak hal seperti pemain yang lelah dan mulai membangkang kepada pelatih.

Jose Mourinho (Foto: Sportskeeda)

Kendati demikian, Mourinho merasa sederet pemecatan yang dialaminya tak akan terjadi jika klub lebih terstruktur dan mendukungnya. Dukungan dari klub bagi Mourinho amatlah penting dalam masa-masa sulit.

“Secara umum, para pemain dapat merasakan erosi tertentu. Terutama ketika Anda meminta banyak kepada mereka. Ketika saya mengatakan bahwa musim kedua adalah fantastis, saya mengatakannya karena potensi dan tujuan terpenuhi,” ujar Mourinho, seperti yang dikutip dari Sportbible, Kamis (16/5/2019).

“Kenapa? Karena saya benar-benar diperas, seperti jeruk, untuk mencapainya. Ketika Anda memiliki sekelompok pemain yang sangat profesional, ambisius, pekerja keras dan berbakat, di klub terstruktur, kamu tidak memiliki erosi itu,” sambung Mourinho.

“Ketika Anda hampir sendirian, dalam hal itu Anda tidak memiliki dukungan dari klub yang dekat dengan Anda, sementara pemain tertentu agak melawan pelatih, yang adalah orang baik. Saya tidak ingin menjadi orang baik, karena orang baik, setelah tiga bulan, adalah boneka dan itu tidak berakhir dengan baik,” tambah pria berusia 56 tahun itu.

“Akan tetapi, Anda juga tidak boleh menjadi pelatih yang negatif sepanjang waktu. Anda perlu mencari keseimbangan itu. Faktanya, masalah pelatih itu sama dengan yang dimiliki oleh seorang guru di sekolah,” tukasnya.

(ADP)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini