MALANG - Pada akhir 2010 lalu, Persema Malang sepertinya bakal menjadi sebuah kekuatan baru diblantika sepakbola nasional. Mendatangkan pemain sekelas Irfan Bachdim yang langsung masuk tim nasional, Persema di bawah arahan Timo Scheunemann menjadi sedikit bergengsi.
Bersaing ketat dengan Persebaya Surabaya di kancah Liga Primer Indonesia (LPI) 2010, kekuatan Laskar Ken Arok sepertinya bakal terus berkembang. Bahkan memasuki musim kompetisi Indonesian Premier League (IPL) 2011-2012, Persema tetap dianggap sebagai kandidat utama tim papan atas.
Walau kursi kepelatihan beralih ke Slave Radovski, Persema yang berkekuatan nyaris sama dengan musim sebelumnya mempunyai prospek menarik. Walau belum bisa menanggalkan status jago kandang, tim yang dulu milik Pemkot Malang ini sempat bersaing di papan atas di awal musim IPL.
Tapi apa lacur, memasuki 2012 atau sekitar dua bulan setelah berkecimpung di IPL, Persema mulai menunjukkan inkonsistensi. Maret 2012 menjadi awal menurunnya prestasi Bima Sakti dkk yang diawali dengan ingkarnya Konsorsium LPI membayar gaji pemain.
Persema yang sebelumnya sempat naik daun, bahkan menginspirasi pembuatan film 'Tendangan Dari Langit' seakan layu sebelum berkembang. Predikat tim papan atas tidak lagi dimiliki pemilik Stadion Gajayana ini. Semakin menyedihkan karena di klasemen akhir IPL, Persema hanya bercokol di posisi ketujuh klasemen.
Bahkan posisi itu bisa melorot jika Arema FC dan PSMS bisa mendapatkan tambahan poin signifikan. Konsep menjadi klub modern yang dideklarasikan dua tahun lalu sekarang hilang tak berbekas. Yang ada hanya persoalan gaji pemain yang belum terbayar.
Persema akhirnya kembali menjadi tim yang benar-benar 'Indonesia'. Prestasi tak memadai, masih ditambah persoalan keuangan yang cukup rumit. Konsep klub yang mengedepankan profesionalisme dan sepakbola modern, tidak kelihatan bekasnya. “Kami prihatin dengan kondisi ini,” cetus Kapten Persema Malang Bima Sakti.
Menurutnya Persema musim ini justru bergerak mundur, dari yang seharusnya berupaya semakin maju. “Dari sisi pemain, Persema sebenarnya mempunyai potensi bagus karena banyak pemain muda berbakat musim ini. Tapi jika persoalannya adalah finansial, maka semua sulit untuk berjalan,” tambahnya.
Pengamat sepakbola Malang, Suyitno, mengatakan Persema kini kembali sebagai tim biasa di sepakbola Indonesia. Itu karena dari sisi bisnis sebenarnya klub seperti Persema kurang mapan dan hanya mengandalkan uluran tangan investor, seperti halnya Konsorsium LPI.
Sedangkan kemampuan investor pun sangat terbatas dan jelas tidak bisa menopang kebutuhan klub dari tahun ke tahun. Jika persoalan finansial tidak bisa diselesaikan secara mandiri oleh klub, maka dia yakin persoalan yang dihadapi Persema bakal terus muncul dari tahun ke tahun.
“Problem utama adalah finansial karena klub tidak bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Saya yakin dari sisi bisnis tidak ada investor yang mau memberikan uang begitu saja sedangkan di sisi lain tidak ada pemasukan. Masalah ini sudah berlaku lama di persepakbolaan kita,” ungkap Suyitno.
Sedangkan dari sisi kualitas pemain, menurutnya tidak ada masalah. Persema mempunyai talenta bagus di tim U-21 dan siap diorbitkan ke tim utama. Namun, katanya, persoalan nantinya kembali ke motivasi jika pemain-pemain muda itu harus menghadapi situasi yang sama di tim utama.
“Kecuali ada pemodal yang membeli Persema, situasi akan sulit berubah. Persema juga teramat sulit berkembang selama masih di Malang, karena publik di sini sudah identik dengan Arema. Tanpa prestasi luar biasa, saya yakin Persema tetap akan menjadi tim biasa di sepakbola Indonesia,” jelasnya.
(Achmad Firdaus)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.