LEGENDA Timnas Brasil, Pele dikenal sebagai salah satu pesepakbola terhebat di dunia. Namun, fakta menariknya pemain sehebat Pele, ternyata tak pernah merasakan bermain di Eropa disepanjang kariernya.
Ya, Pele yang memutuskan pensiun pada usia 37 tahun tanpa pernah sekalipun membela klub Eropa. Padahal, saat itu pusat peta sepak bola dunia mulai bergeser ke klub-klub raksasa Eropa seperti Real Madrid, AC Milan, Inter Milan, dan Manchester United. Namun, sang pemain terbaik dunia justru menghabiskan sebagian besar kariernya di kota pelabuhan Brasil dan hanya sempat hijrah ke New York menjelang masa pensiunnya.
Alasan di balik keputusan tersebut merupakan perpaduan kompleks antara konstelasi politik, kondisi ekonomi klub, regulasi ketat batas negara di Eropa, serta keinginan pribadi sang pemain yang enggan meninggalkan tanah airnya.
Menurut laporan Give Me Sport, penjelasan yang paling populer adalah tindakan Presiden Brasil, Janio Quadros pada tahun 1961 yang menetapkan Pele sebagai "harta karun nasional" melalui undang-undang. Keputusan hukum tersebut secara resmi melarang penjualan sang bintang ke luar negeri. Meski keputusan itu nyata, banyak pihak menilai penetapan tersebut lebih bersifat simbolis politik yang kemudian berkembang menjadi legenda urban.
Faktor ekonomi dan regulasi internal klub memegang peranan jauh lebih krusial. Di bawah sistem transfer lama, Santos memegang hak registrasi pemain secara penuh sehingga Pele tidak memiliki kebebasan untuk pindah.
Selain itu, Santos menjadikan Pele sebagai aset komersial utama dengan menggelar tur eksibisi keliling dunia yang sangat menguntungkan. Pada saat bersamaan, akses menuju Eropa membentur tembok tebal sepanjang era 1960-an.
Negara-negara seperti Italia dan Spanyol menerapkan kebijakan penutupan keran transfer pemain asing, tepat di periode emas karier Pele. Di luar faktor eksternal tersebut, Pele sendiri merasa sangat bahagia berada di Santos, tempat di mana ia dipuja sebagai pahlawan nasional.
Kendati demikian, ketertarikan klub-klub top Eropa tidak pernah surut sepanjang kariernya. Inter Milan hampir mengamankan tanda tangan Pele pada 1958, namun kontrak tersebut dibatalkan di detik-detik terakhir akibat protes keras fans Santos.
Valencia juga sempat menyepakati kepindahan sang bintang, namun Santos membatalkannya setelah penampilan gemilang Pele di Piala Dunia 1958 dengan menaikkan harga transfer ke angka yang tak terjangkau.
Pele juga secara terbuka mengakui beberapa kali hampir bergabung dengan Real Madrid dan Napoli. Namun, ia menegaskan tidak pernah menyesali keputusannya karena Santos saat itu merupakan salah satu kekuatan sepak bola terbesar di dunia.
"Saya tidak bermain di luar Brasil karena merasa sangat bahagia di Santos dan menghabiskan 15 hingga 20 tahun terbaik dalam hidup saya di sana. Saya menerima banyak tawaran, bukan hanya dari Real Madrid, tetapi saya merasa nyaman dengan keberadaan saya saat itu," ungkap Pele, dikutip dari Give Me Sport, Selasa (22/9/2026).
Setelah sempat menyatakan gantung sepatu di Santos, Pele memutuskan kembali bermain pada 1975 bersama New York Cosmos dalam kesepakatan yang menjadikannya atlet berbayaran tertinggi di dunia. Langkah ini menjadi proyek besar untuk mempopulerkan sepak bola di Amerika Serikat, yang sukses dibuktikannya dengan mempersembahkan gelar Soccer Bowl 1977 serta mencetak lebih dari 30 gol.
Usai pensiun dari lapangan hijau, sang legenda mendedikasikan hidupnya sebagai Duta UNICEF dan sempat menjabat sebagai Menteri Olahraga Brasil. Pele menghembuskan napas terakhirnya pada 29 Desember 2022 di usia 82 tahun, meninggalkan warisan abadi sebagai salah satu pesepak bola terhebat sepanjang masa.
(Rivan Nasri Rachman)