NIL Maizar dorong para pemain muda Indonesia untuk berani berkarier di luar negeri. Menurut pelatih Dewa United tersebut, hal itu akan membantu perkembangan para pemain, terutama dalam hal mentalitas.
Pelatih asal Sumatera Barat ini pun pernah merasakan kesempatan bermain untuk tim Eropa. Kala itu, dia menjalani trial bersama klub-klub Republik Ceko seperti Dukla Praha dan Slavia Praha.
Nil Maizar juga pernah membela klub Republik Ceko lainnya, SK Benesov. Tak sendiri, Nil Maizar ditemani oleh rekan senegaranya, Heriansyah, Rochi Putiray dan Agus Yuwono.
Oleh sebab itu, Nil Maizar paham betul kerasnya berkarier di luar negeri. Pengalaman berkarier jauh dari Indonesia pun dinilai amat berpengaruh bagi perkembangan seorang pemain.
Maka Nil Maizar pun tak heran dengan kualitas yang dimiliki Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman dan Asnawi Mangkualam. Sebab menurutnya, ketiga pemain tersebut memiliki pola pikir dan kepercayaan diri yang berbeda dengan pemain Indonesia pada umumnya.
“Pemain nasional sekarang, ada beberapa anak muda yang sudah main di luar negeri, ketika mereka main di luar negeri dan datang ke Indonesia, cara berpikirnya berubah, mindsetnya berubah, terutama kepercayaan dirinya,” kata Nil Maizar dikutip Podcast Sport 77 Official, Sabtu (5/11/2022).
“Kepercayaan diri mereka bermain sepak bola lebih enak, karena sudah sering melawan bule-bule yang lebih hebat, itu keuntungannya, jadi itu sebabnya ketika Witan datang, Egy main, Asnawi main, enak dilihat,” tuturnya.
Nil Maizar pun menjadikan Asnawi sebagai contoh. Menurutnya, Asnawi berkembang sangat pesat bersama klub Korea Selatan, Ansan Greeners.
“Asnawi sekarang bukan seperti yang kita lihat dua tiga tahun lalu waktu main di Makassar kan, beda, Anda juga bisa bilang begitu,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Nil Maizar ingin semakin banyak pemain muda Indonesia yang berpetualang ke luar negeri. Eks pelatih Persela Lamongan dan Sriwijaya FC itu menyebut para pemain Indonesia harus berkarier di luar negeri minimal dua tahun.
“Jadi kalau Timnas kita mau hebat, ambil anak-anak muda ini, umur 18, 19 kirim ke Eropa, hidup di sana, dua tahun cukup lah, apalagi lima tahun, itu yang dilakukan Jepang 10 tahun lalu,” pungkasnya.
(Reinaldy Darius)